FITNESS & HEALTH

Penyebab Terjadinya Kelainan Genital Bawaan pada Bayi

Raka Lestari
Sabtu 05 Juni 2021 / 08:08
Jakarta: Kelainan genital pada anak merupakan kasus yang cukup sering terjadi. Penanganan medis yang segera dan tepat akan membantu agar anak dengan kasus ini memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Sayangnya, masih terdapat beberapa hambatan dalam tatalaksana penyakit ini. Antara lain karena sebagian besar masyarakat Indonesia relatif tidak terbuka untuk mendiskusikan kelainan genitalia pada keluarga mereka.

“Kasus kelainan genital karena bawaan lahir umumnya terjadi akibat pembentukan organ genitalia yang tidak sempurna selama bayi di dalam kandungan," jelas Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K), Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI, dalam Virtual Media Briefing mengenai Hipospadia.

Menurut dr. Irfan, proses pembentukan organ genitalia ini melibatkan banyak faktor. Mulai dari faktor genetik (kromosom seks), gonad, hormon, hingga reseptor hormon. Gangguan pada salah satu atau beberapa faktor dalam proses pembentukan ini akan dapat menyebabkan kelainan genital.

“Kelainan bawaan genitalia merupakan kelainan yang cukup sering terjadi. Kejadian testis yang tidak turun (undescensus testis) sebagai contoh, terjadi pada 1 persen kelahiran anak laki-laki. Kelainan genital pada anak laki-laki umumnya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kelainan pada penis dan buah zakar," ujar dr. Irfan.

Untuk kelainan pada penis, variasi kelainannya meliputi kulit penis menutupi lubang kencing (fimosis), ukuran penis kecil (mikropenis), penis tidak muncul (buried penis), serta lubang penis tidak pada tempatnya (hipospadia). Sedangkan kelainan pada buah zakar kasusnya seperti buah zakar yang tidak turun dan retraktil testis.

“Kelainan genital pada anak merupakan sesuatu yang mudah dilihat, diraba, dan diobservasi dengan kedua mata. Orang tua mempunyai peran penting untuk ikut mengenali kelainan genitalia anaknya, khususnya di awal 2 tahun pertama kehidupan saat mereka membantu memandikan, mengganti popok hingga mengajari toilet training," saran dr. Irfan.

Meskipun kasus seperti itu lebih banyak terjadi pada anak laki-laki, tidak tertutup kemungkinan anak perempuan pun bisa mengalaminya. Jika ada kecurigaan, segera periksakan ke dokter agar  mendapat tindakan segera dan tepat.

"Jangan sampai telat sehingga berakibat anak mulai mengalami kebingungan akan identitas gendernya ataupun mengalami gangguan psikologis,” tutup dr. Irfan.
(FIR)