FITNESS & HEALTH

Mengapa Banyak Anak-anak yang Terinfeksi Varian Omicron?

Raka Lestari
Sabtu 19 Februari 2022 / 18:07
Jakarta: Peningkatan kasus Covid-19 yang disebabkan Varian Omicron, berdampak juga terhadap kenaikan kasus positif yang terjadi pada anak-anak. Demi mencegah penyebaran lebih luas pada anak, vaksinasi covid-19 juga sudah mulai dilakukan pada anak yang berusia di atas 6 tahun.

Alasan mengapa banyak anak-anak yang terinfeksi Varian Omicron, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberi tanggapan. Menurutnya, banyak anak-anak yang terkena Varian Omicron lantaran yang belum mendapatkan vaksin.

“Datanya anak-anak banyak yang terkena Omicron karena memang anak-anak belum divaksin. Kita kan vaksin pertama kali untuk 18 tahun ke atas. Kemudian Mei atau Juni diturunkan jadi untuk remaja yang berusia 12-18 tahun,” jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam acara Indonesia Moving Forward.

“Kemudian akhir Desember, kita baru mulai vaksin untuk anak-anak yang berusia 6-11 tahun. Jadi porsi anak-anak yang divaksin, secara persentase masih sedikit. Karena memang proses vaksinnya yang mulainya baru di akhir tahun lalu,” tambah Menkes.

Mengenai vaksinasi untuk anak-anak yang berusia dari 6 tahun, Menkes menyebutkan bahwa masih perlu dikaji lebih lanjut. Pasalnya, belum banyak negara yang menjalankan vaksinasi di usia tersebut.

"Jadi memang belum banyak, WHO juga masih mengkaji. Untuk itu, saya serahkan pada ahlinya, yaitu ITAGI. Dari segi fatality rate, anak-anak kalau positif porsinya sangat rendah. Mungkin seperseratus dibandingkan lansia. Selain itu, anak-anak kan sistem imunnya masih dibangun, dokter dan ahli pasti ada pertimbangan lah,” tutur Menkes Budi.

Untuk itu, mengenai prioritas kelompok yang akan diberikan vaksinasi covid-19 utamanya memang pada lansia. Kalau dilihat berdasarkan prioritas, vaksinasi primer untuk lansia, vaksinasi primer untuk dewasa, vaksinasi primer untuk anak-anak.

“Kemudian booster untuk lansia, booster untuk dewasa, dan booster untuk anak-anak. Prioritasnya seperti itu dan prioritas itu dibikin berbasis risiko. Karena risiko yang fatality rate-nya paling tinggi itu lansia, diikuti oleh dewasa, baru anak-anak,” tutup Budi.
(FIR)