FITNESS & HEALTH

HIV-AIDS, Cara Pencegahan dan Kenali Faktor Risikonya

Rendy Renuki H
Kamis 02 Desember 2021 / 13:32
Jakarta: Peringatan hari AIDS Sedunia kerap dilaksanakan pada 1 Desember tiap tahunnya. Penyakit ini masih menjadi menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang.

Sehingga Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) seringkali mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Padahal hal itu terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman tentang HIV AIDS.

"HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit," ungkap Liliana Handranatan, dokter Voluntary Counseling Testing khusus HIV-AIDS di Siloam Hospitals Balikpapan, lewat live Instagram, Rabu 1 Desember 2021.

Menurutnya, HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS. AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

"Jadi HIV itu adalah virusnya, sementara AIDS adalah kumpulan gejala yang disebabkan karena penurunan kekebalan tubuh," imbuh Liliana.

HIV berkembang menjadi AIDS, Perhatikan Pencegahan

Tahap paling lanjut dari infeksi HIV adalah Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yang dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang jika tidak diobati, tergantung pada kondisi masing-masing individu. Namun, tidak semua orang yang mengidap HIV akan berkembang menjadi AIDS.

"Secara garis besar ada empat cara virus ini ditularkan. Yang pertama melalui transfusi darah, yang kedua lewat cairan sperma atau cairan pre ejakulasi, yang ketiga lewat cairan vagina, dan yang terakhir melalui Air Susu Ibu. Jadi penularannya tidak semudah yang kita kira," tutur Liliana.
 
Ditambahkannya, bahwa HIV itu tidak ditularkan melalui air liur, tetapi lewat darah dan cairan sperma dan air susu ibu, jadi bukan dari kontak makan. Maka tidak perlu khawatir saat makan bersama dengan penderita AIDS.

Gejala dari HIV yang pertama kali muncul adalah, demam, sakit kepala, diare, dan sariawan.
Biasanya untuk orang dengan HIV positif menjadi AIDS itu butuh waktu yang lama dengan durasi lebih dari 10 tahun.

"Di sana kalau sudah muncul AIDS maka gejala-gejala dari turunnya sistem kekebalan tubuh seperti infeksi-infeksi oportunistik akan bisa masuk ke dalam tubuh, jadi bisa menyebabkan infeksi TBC, kemudian penurunan berat badan yang signifikan, lalu bisa menyebabkan infeksi jamur dan lain sebagainya," terang Liniana. 

Apa saja faktor risiko yang perlu diwaspadai?

Faktor risiko merupakan hal yang harus diketahui masyarakat agar pencegahan dapat dilakukan secara optimal. Faktor tersebut di antaranya didapat melalui penggunaan jarum suntik yang bergantian seperti yang biasa ditemukan pada kasus pengguna narkoba suntik.

Selain itu pun biasanya terjadi karena hubungan seks yang tidak aman seperti yang biasa ditemukan pada kelompok-kelompok tertentu misalnya hubungan dengan sesama jenis. Faktor lainnya adalah air susu ibu yang sudah terkena HIV AIDS.

"Penularan virus ini umum didapatkan dari ketiga faktor tersebut," ungkap Liliana.

Pada akhirnya yang membunuh seorang dengan HIV-AIDS adalah bukan penyakitnya itu sendiri, melainkan diskriminasi dan kebencian yg didapat dari orang sekitarnya.

Diskriminasi dan kebencian itulah yang membuat mereka takut untuk diperiksakan, hal itulah yang juga menyebabkan penyebaran virus HIV akan terus meluas.

Dia pun menyarankan jika merasa memiliki faktor risiko HIV-AIDS, baiknya melakukan konsultasi. Umumnya, konsultasi itu pun bersifat rahasia, untuk hasil tesnya biasanya juga bersifat rahasia.

"Tes yang dilakukan biasanya melalui pengambilan dan pemeriksaan darah, dan disarankan untuk datang sendiri. Jadi untuk pasangan pun sifatnya rahasia," pungkas Liliana.
(REN)