FITNESS & HEALTH

Khawatir Lonjakan Kasus, Pemerintah Imbau Masyarakat Tetap di Rumah Saja

Raka Lestari
Senin 03 Mei 2021 / 14:29
Jakarta: Berbagai negara di dunia banyak yang kembali melakukan pengetatan terhadap mobilisasi serta aktivitas warganya. Beberapa negara seperti Jepang, Singapura, yang melihat adanya tren kenaikan kasus konfirmasi positif juga mulai kembali meningkatkan kewaspadaan di negaranya masing-masing.

“Kita lihat peningkatan kasus di berbagai negara. Ini menjadi pelajaran bagi kita. Bisa kita lihat India yang saat ini hampir mencapai angka 18 juta kasus covid-19 dengan 200 – 300 ribu konfirmasi positif per hari serta kematian yang terjadi setiap 4 menit,” jelas ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes pada Konferensi Pers Virtual Indikasi Lonjakan Kasus Covid-19 pada Jumat, 30 April 2021 lalu.

Dampak dari adanya lonjakan yang sangat tajam tersebut adalah sistem kesehatan yang collapsed. 

“Kita tidak mau Indonesia seperti itu. Beberapa negara seperti Turki sudah memasuki kondisi lockdown akibat adanya peningkatan kasus. Jepang juga sudah bertambah 1000 kasus infeksi baru. Singapura juga melihat adanya 16 kasus komunitas,” kata dr. Nadia.

“Untuk itu kami imbau masyarakat untuk mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan lebih disiplin lagi. Kita tahu ada potensi-potensi lonjakan kasus, ada varian baru yang memungkinkan menambah berat lonjakan kasus. Maka dari itu mari sama-sama menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” tutur dr. Nadia.

Ia juga menambahkan, “Kami imbau masyarakat untuk membatasi pergerakan. Bila tidak ada keperluan mendesak, mari kita menahan diri untuk tetap di rumah saja. Bekerja dari rumah, ibadah di rumah, dan belajar di rumah,” tegas dr. Nadia.

“Negara-negara di Eropa seperti Spanyol juga melakukan pembatasan mobilisasi yang ketat sehingga berhasil menekan laju penyebaran covid-19. Protokol kesehatan yang ketat merupakan satu-satunya cara untuk menghindari penularan covid-19 secara masif selain vaksin,” ujar dr. Nadia.

Ia juga menegaskan bahwa vaksin saja tidak akan cukup kalau tidak dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat. 

“Pemerintah juga terus memperpanjang kebijakan PPKM mikro ke 25 provinsi sebagai upaya untuk menekan laju penularan. Parameter keberhasilan PPKM mikro dinilai cukup efektif karena kita bisa menekan angka penularan di angka 6,1 persen,” pungkas dr. Nadia.
(TIN)