FITNESS & HEALTH

Mengenal Hidden Hunger yang Bisa Terjadi di Semua Umur

Kumara Anggita
Minggu 13 Juni 2021 / 15:37
Jakarta: Salah satu permasalahan yang dialami oleh masyarakat di Indonesia adalah masalah kekurangan nutrisi. Hal ini membuat banyak dari kita mengalami hidden hunger atau kelaparan yang tersembunyi.

Menurut Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University hidden hunger adalah istilah untuk menunjukkan bahwa seseorang tidak memenuhi kebutuhan nutrisinya. Mereka kekurangan zat gizi mikro.

Menurutnya, zat gizi mikro itu terdiri dari vitamin dan mineral yang bisa didapatkan dari berbagai makanan. Selain itu, tampilan hidden hunger juga sulit untuk diidentifikasi karena tidak menunjukkan gejala yang spesifik. 

“Hidden hunger tadi berbeda dengan kelaparan biasa yang sering kita jumpai. Kalau lapar itu umumnya kan terlihat kurus atau terjadi perutnya buncit, tulang iganya kelihatan,” paparnya.


hunger
(Hidden hunger bukan kelaparan seperti orang yang kurang makan, melainkan makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)


Kondisi hidden hunger menurutnya bisa terjadi di segala umur. Untuk itu, kamu perlu berhati-hati. “Yang bahaya ini adalah hidden hunger tadi. Ini bisa terjadi pada berbagai siklus umur mulai dari anak balita, anak sekolah, dan bahkan pada beberapa orang dewasa,” jelasnya.

Kondisi hidden hunger ini di Indonesia masih sering terjadi. Dan buruknya, ini bisa memengaruhi baik fisik maupun psikis.

“Negara kita masih memiliki beban hidden hunger yang besar, kondisi yang timbul akibat kekurangan zat gizi mikro seperti iodium, zat besi, vitamin A dan zinc ini telah menimbulkan beberapa masalah kesehatan yang berkepanjangan," kata Prof. Dodik.

"Contohnya, Riset Kesehatan Dasar 2018 memperlihatkan 48,9 persen ibu hamil menderita anemia, dan Riset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa 14,9 persen anak usia sekolah berisiko kekurangan iodium,” paparnya lagi.

“Masyarakat sering kali masih abai akan masalah ini, karena meskipun makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, penderitanya tidak merasa kelaparan karena asupan gizi makronya sudah terpenuhi. Jika tidak segera mendapatkan perhatian, akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang – baik secara fisik maupun psikis,” tutupnya.

(TIN)