FITNESS & HEALTH

Perlu Psikoedukasi untuk Bisa Social Distancing

Yatin Suleha
Kamis 15 Oktober 2020 / 14:50
Jakarta: Sering kali kita melihat di lingkungan seputar rumah beberapa anak remaja, ibu-ibu serta bapak-bapak berkumpul walau di tengah situasi pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

Rasanya untuk melakukan social distancing merupakan 'ujian' yang cukup berat. 
Sore atau pagi, saat keluar rumah menyiram tanaman kemudian mulai berkumpul. 

Dari sekedar bersapa dan bertanya tentang masakan hingga perbincangan menjadi semakin hangat. Belum lagi jika sudah lewat pukul 18.30 menjelang ke malam hari sambil duduk-duduk di depan rumah menjadi waktu yang nyaman sambil meneguk kopi hangat dan satu per satu mulai berdatangan seakan lupa situasi pandemi. 

Bukan hanya di lingkungan seputar rumah, dalam beberapa kesempatan pun kita dapat melihat di berita banyak orang berdesakan dan berhimpitan misalnya saat mengecek rekening bantuan sosial atau mengambil bantuan bahan pokok dalam pandemi ini. Protokol kesehatan covid-19 jelas terabaikan.
 

Kenapa orang Indonesia sulit melakukan jaga jarak atau social distancing?


Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung menjelaskan dalam beberapa kajian culture psychology dikatakan bahwa budaya Indonesia itu adalah kolektevistik. 

"Budaya kolektivistik ini memang sangat menekankan pentingnya kebersamaan," kata psikolog yang ramah ini.

social distancing
(Sulit melakukan social distancing atau menjaga jarak dalam situasi pandemi covid-19 untuk kultur seperti di Indonesia yang berbudaya kolektivistik. Tapi bukan tidak mungkin kita bisa berdisiplin sedikit demi sedikit demi memutus mata rantai penularan covid-19. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Ia menambahkan, oleh karena budaya sudah terbentuk selama ribuan tahun, maka habit kumpul bersama ini sudah terkunci di alam bawah sadar. Hal ini yang membuat kita saat melakukannya seolah-olah tidak sadar dan menjadi refleks yang bersifat otomatis. 

"Jadi, untuk mengubah habit ini dalam waktu yang singkat misalnya hanya dalam beberapa bulan saja tidak mungkin," paparnya.

Ia menilai, proses edukasi dan membuat habit yang baru memang harus dilakukan terus menerus, bahkan bertahun-tahun agar memori alam bawah sadar ini perlahan-lahan bisa “di-reset” atau di tata kembali.

Butuh mentor-mentor yang senantiasa memberikan instruksi dan pengawasan agar hal ini bisa dilakukan secara konsisten.
 

Sulit, namun bukan hal yang mustahil


Walau sulit, tidak ada yang tidak mungkin untuk mensukseskan social distancing sebagai bagian dari 3M yaitu Mencuci tangan, Memakai masker, dan Menjaga jarak. Lalu apa yang harus dilakukan agar bisa melakukan social distancing di lingkungan masyarakat (rumah)?

Efnie menjelaskan perlu dilakukan psikoedukasi, yaitu program yang memberikan wawasan dan mengubah mindset, yang menyentuh sisi perasaan, dan mampu membentuk habit atau kebiasaan yang baru. 

"Oleh karena itu butuh dibuat video-videonya, infografis, termasuk ditempatkan agen-agen perubahan di titik-titik tertentu di lokasi kediaman masyarakat agar kebiasaan ini bisa diterapkan dan terpantau. Bukan hanya dengan menakut-nakuti dengan hukuman, namun masyarakat perlu dilatih dengan sistem reinforcement positif," papar psikolog yang cantik ini.

"Caranya yaitu, ditempatkan sejumlah observer di titik-titik kediaman masyarakat untuk mengamati perilakunya. Nah, masyarakat yang tertib bisa diberikan reward tertentu yang sifatnya sederhana saja, misalnya dapat sembako atau beras. Namun karena diberikan secara kejutan sebagai penghargaan atas kedisiplinan sejumlah masyarakat, tentu bisa menginspirasi yang lain," terang Efnie.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 berulang kali menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah penyebaran pandemi virus korona lewat disiplin protokol kesehatan. Disiplin memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan atau 3M menjadi kunci memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

Pemerintah melalui #satgascovid19 tak bosan-bosannya mengampanyekan #ingatpesanibu. Jangan lupa selalu menerapkan 3M, yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #jagajarakhindarikerumunan, serta #cucitangandan #cucitanganpakaisabun.
(TIN)