FITNESS & HEALTH

Mengenal Trypanophobia atau Fobia Jarum Suntik, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

A. Firdaus
Rabu 15 September 2021 / 11:13
Jakarta: Adanya Virus Covid-19 mengharuskan kita untuk divaksinasi demi terciptanya herd immunity. Sayangnya, tak semua orang berani bertemu dengan jarum suntik, entah itu anak-anak maupun orang dewasa.

Ya, fobia jarum suntik memiliki istilah Trypanophobia, yang merupakan kondisi di mana seseorang mengalami ketakutan yang berlebihan. Terjadi ketika akan melakukan tindakan medis yang melibatkan suntikan atau tindakan yang berhubungan dengan jarum suntik. Fobia ini tidak hanya dialami anak-anak tapi juga sebagian orang dewasa.

Melansir Covid19.go.id, biasanya beberapa hari atau jam sebelum dan saat berhadapan dengan jarum suntik, penderita bisa merasakan beberapa tanda fobia jarum suntik, yakni:

- Jantung berdebar
- Tensi menjadi naik
- Tangan gemetar
- Napas terengah
- Keringat dingin
- Pusing
- Lemas
- Gelisah dan cemas
- Pingsan

Orang dengan fobia ini akan berusaha menghindari kondisi atau situasi dan objek yang bisa memicu ketakutan atau berusaha menghadapinya sambil menahan rasa takut dan cemas. Karena itu, tidak sedikit yang belum melakukan vaksin bukan karena takut vaksinnya, tapi fobia melihat jarum suntik atau takut rasa sakit yang disebabkan oleh jarum suntik.

Hingga saat ini, belum ada penyebab pasti seseorang bisa mengalami fobia jarum suntik. Namun beberapa kondisi yang bisa memicunya adalah:

- Punya pengalaman buruk atau traumatis terkait jarum suntik atau disuntik.
- Memiliki kerabat atau orang tua yang menderita fobia.
- Ada perubahan kimia di otak.
- Kerap mendapatkan informasi negatif tentang jarum suntik atau disuntik, misalkan ditakut-takuti jarum suntik sewaktu kecil.

Salah satu metode paling berhasil dalam mengatasi fobia termasuk trypanophobia adalah terapi desensitisasi atau pemaparan. Pada terapi ini, penderita secara sengaja dipaparkan alias dipertemukan dengan jarum suntik.

Dimulai dengan menunjukkan gambar, lalu video. Kemudian dipaparkan dengan jarum, memegang jarum, hingga proses penyuntikan secara langsung.

Pada terapi pemaparan ini, sensitivitas akan menurun jika kamu dipertemukan dengan pemicu fobiamu secara terus menerus. Lama kelamaan tubuh dan otak akan merespons ketakutan tersebut dan akan berusaha mengatasi dan membiasakan. Pemaparan secara bertahap dan berkelanjutan lama-lama dapat mengurangi sensitivitas seseorang terhadap pemicu fobianya.

Untuk membantu mengatasi fobia, penderita disarankan melakukan meditasi sambil memberikan sugesti pada diri sendiri. Caranya:

- Duduk yang nyaman dan tenang.
- Posisi duduk tegak, letakkan tangan di paha. Atur napas sampai napas teratur kurang lebih 1 menit.
- Tarik napas dari hidung 4 hitungan, tahan 4 hitungan, hembuskan lewat mulut 4 hitungan.

Lakukan meditasi selama 10-15 menit sambil tanamkan dalam pikiran saya bisa mengatasinya, saya akan baik-baik saja. Sebaiknya meditasi ini dilakukan setiap hari selama minimal 14 hari.
(FIR)