FITNESS & HEALTH

Covid-19 Dapat Menyebabkan Perubahan pada Struktur Otak

Raka Lestari
Jumat 01 April 2022 / 17:10
Jakarta: Penelitian baru menemukan bahwa terkena covid-19 bisa menyebabkan perubahan pada otak. Para ilmuwan menemukan perbedaan signifikan dalam pemindaian MRI (magnetic resonance imaging) sebelum dan sesudah infeksi covid-19.

Bahkan setelah infeksi ringan, ukuran keseluruhan otak sedikit menyusut, dengan sedikit materi abu-abu di bagian yang berhubungan dengan penciuman dan ingatan. Para peneliti tidak tahu apakah perubahan itu permanen, tetapi menekankan otak bisa sembuh.

“Kami melihat secara seksama pada infeksi ringan, sehingga untuk melihat apa perbedaan pada otak dibandingkan pada mereka yang belum pernah terinfeksi masih diperlukan," seperti dikatakan penulis utama Prof Gwenaelle Douaud, dari Wellcome Center for Integrative Neuroimaging, di University of Oxford.

Proyek Biobank Inggris telah memantau kesehatan 500.000 orang selama sekitar 15 tahun dan memiliki basis data pemindaian yang direkam sebelum pandemi, sehingga memberikan kesempatan unik untuk mempelajari dampak kesehatan jangka panjang dari covid-19.

Para peneliti melakukan pemindaian ulang pada 401 partisipan selama 4,5 bulan pada pasien yang mengalami gejala ringan dan 348 partisipan yang belum pernah terkena covid-19 sama sekali. Peneliti menemukan bahwa:

· Ukuran otak keseluruhan pada peserta yang terinfeksi telah menyusut antara 0,2 sampai 2%.

· Ada kehilangan materi abu-abu di area penciuman, terkait dengan penciuman, dan wilayah yang terkait dengan memori.

· Mereka yang baru saja pulih dari covid-19 merasa sedikit lebih sulit untuk melakukan tugas mental yang kompleks.

Tetapi para peneliti tidak tahu apakah perubahan itu dapat kembali normal atau dapat menyebabkan perbahan signifikan untuk kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

"Kita perlu ingat bahwa otak itu benar-benar dinamis, maksudnya bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi ada kemungkinan besar, seiring waktu, efek berbahaya dari infeksi akan berkurang," kata Prof Douaud.

Hilangnya materi abu-abu yang paling signifikan adalah di area penciuman mati begitu saja, karena tidak digunakan setelah orang dengan covid-19 kehilangan indra penciumannya. Namun masih tidak jelas apakah semua varian virus menyebabkan kerusakan ini.
(FIR)