FITNESS & HEALTH

3 Penyakit Autoimun Kulit yang Kerap Muncul di Masa Pandemi Covid-19

Raka Lestari
Rabu 03 November 2021 / 18:16
Jakarta: Bukan hanya batuk dan sesak napas, salah satu penyakit yang perlu diperhatikan selama masa pandemi covid-19 yaitu autoimun kulit. Autoimun kulit dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya, karena penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat kronis jangka panjang dan bersifat kambuhan.

Pengobatan masih terbatas untuk mengatasi peradangan dan mengendalikan sistem imun yang terlalu aktif. Oleh sebab itu, pasien dihimbau untuk selalu melakukan kontrol rutin dan melakukan pola hidup sehat untuk memperbaiki kualitas hidup mereka.

Tiga penyakit autoimun kulit yang kerap muncul selama masa pandemi ini ialah Psoriasis, Vitiligo, dan Urtikaria (biduran).
 

1. Psoriasis


Menurut dr. Amelia Soebyanto, Sp.DV,  Spesialis kulit dan kelamin (Dermato-venereologi) Klinik Pramudia psoriasis adalah penyakit peradangan kulit yang kronik dan sering kambuh, dapat timbul pada semua usia, terutama pada usia 15-30 tahun dan 50-60 tahun.

“Prevalensi terjadi sekitar 0,1-3 persen dengan Ras Kaukasia paling banyak dilaporkan. Di Indonesia sendiri dilaporkan sekitar 2,5 persen dari populasi, dan dapat mengenai laki-laki maupun perempuan,” ujar dr. Amelia dalam Virtual Media Briefing, pada Rabu, 3 November 2021.
 

2. Vitiligo


Vitiligo merupakan suatu kelainan kulit berupa bercak putih seperti kapur, kadang disertai gatal. Vitiligo dapat terjadi pada segala usia, namun sekitar 50 persen kasus terjadi sebelum usia 20 tahun dan prevalensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.
 

3. Urtikaria


Merupakan kondisi di mana terdapat lesi pada kulit yang meninggi dan gatal. Umumnya, lesi tersebut berwarna merah, dan terasa gatal hingga perih.

“Prevalensi urtikaria autoimun dilaporkan sekitar 0,05-3 persen dan ditemukan 2 kali lebih banyak pada perempuan dengan rentang usia 40-49 tahun,” tambah dr. Amelia.

Terkait pengobatan, baik Psoriasis, Vitiligo, maupun Urtikaria tentu memiliki cara pengobatan spesifiknya masing-masing. Namun secara umum, tata laksana penyakit autoimun kulit yaitu berupa obat oles (topikal), obat minum (oral), obat suntik, maupun fototerapi atau fotokemoterapi.

“Pertimbangan pemberian terapi ini tentu disesuaikan dengan jenis penyakit, luas dan derajat keparahan penyakit, serta kondisi penyertanya atau komorbiditas," kata dr. Amelia.

"Selain obat-obatan, penatalaksanaan non-medikamentosa juga penting, yakni dengan menghindari garukan dan trauma, hingga manajemen stress yang baik juga berperan penting dalam membantu mengendalikan penyakit autoimun kulit ini,” tutup dr. Amelia.
(FIR)