FITNESS & HEALTH

4 Faktor Risiko Stunting yang Perlu Kamu Ketahui

Kumara Anggita
Kamis 29 April 2021 / 10:35
Jakarta: Stunting adalah salah satu masalah yang masih dihadapi oleh orang Indonesia. Prevalensi stunting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen.

Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen. Karena itu, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional.
 

Apa itu stunting?


Stunting, seperti yang dikutip dari siaran pers Hello Sehat adalah terganggunya pertumbuhan yang menyebabkan anak memiliki tubuh yang lebih pendek. Kondisi ini mungkin saja merupakan salah satu indikator terganggunya pertumbuhan anak.

Stunting atau masalah kekerdilan ini harus segera ditangani. Apalagi jika sang anak masih berusia di bawah dua tahun. Sebab stunting merupakan kondisi yang tidak bisa dipulihkan apabila penanganannya terlambat.


Faktor risiko anak bisa terkena stunting
 

1. Asupan nutrisi ibu kurang


Stunting terjadi akibat kurangnya asupan nutrisi pada bayi bahkan sejak saat masih di dalam kandungan. Menurut WHO, kondisi ini terjadi pada 20 persen kasus kehamilan.

Ibu yang mengonsumsi makanan kurang sehat membuat janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Akibatnya, hal ini pun berlanjut setelah kelahiran.
 

2. Tidak optimal memberikan ASI pada 1.000 hari pertama


Dua tahun pertama kehidupan anak, atau dikenal dengan 1.000 hari pertama merupakan masa yang sangat kritis bagi tumbuh kembangnya. Pada waktu inilah, keluarga, khususnya orang tua harus yakin bahwa sang bayi mendapatkan asupan gizi yang cukup dan tepat agar ia tidak menderita malnutrisi yang dapat berujung pada stunting.

ASI eksklusif adalah cara paling murah untuk memastikan kebutuhan nutrisi si kecil terpenuhi. Manfaat ASI eksklusif telah terbukti membantu anak untuk mendapatkan asupan gizi yang mencukupi, sehingga meminimalkan risiko terjadi stunting pada anak.
 

3. Melepas ASI terlalu dini


Pemberian ASI yang tidak dimaksimalkan hingga enam bulan (terlalu cepat melepas ASI) atau pemberian MPASI yang terlalu dini, dapat membuat sang bayi kehilangan nutrisi yang dibutuhkan dari ASI. UNICEF dan WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur enam bulan.

Hal ini tentunya bukan tanpa alasan. ASI mengandung gizi lengkap yang mudah dicerna oleh perut bayi yang kecil dan sensitif. Itulah sebabnya, memberikan ASI saja sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi di bawah usia enam bulan.

Bahkan, pemberian MPASI sebelum bayi menginjak usia enam bulan akan membuatnya lebih tertarik pada makanan daripada ASI. Sehingga lama-kelamaan menghindari ASI.
 

4. Anak infeksi


Dikutip dari laman WHO, selain gizi buruk, stunting juga terjadi sebagai dampak dari infeksi yang terjadi selama bertahun-tahun. Lagi-lagi, di sinilah manfaat ASI bisa dirasakan.

ASI mengandung protein khusus yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh si kecil. Semakin rutin kamu memberikannya, maka manfaat ASI akan semakin kamu dapatkan, khususnya dalam hal daya tahan tubuh anak.
(FIR)