FITNESS & HEALTH

Fakta Tentang Imunoterapi dan Kanker Paru-paru

Kumara Anggita
Jumat 27 November 2020 / 09:04
Jakarta: Imunoterapi adalah salah satu pengobatan yang bisa kamu gunakan untuk kanker paru-paru. Namun, sayangnya pengobatan yang satu ini tidak semua orang kenali.

Berikut 9 fakta tentang imunoterapi dan kanker paru-paru yang perlu kamu ketahui seperti dipaparkan Dr. Jyoti D. Patel selaku Direktur Medis Onkologi Toraks dan Asisten Direktur Penelitian Klinis di Lurie Cancer Center of Northwestern University.
 

Apa itu Immune checkpoint?


Immune checkpoint  adalah salah satu istilah yang  sering disebutkan dalam menghadapi penyakit kanker paru-paru. Dikutip dari Cancer.Net, ini dirancang untuk menekan sistem kekebalan agar organ yang sehat tidak rusak.

Sel kanker dapat mengambil alih Immune checkpoint ini sehingga sistem kekebalan tidak menargetkannya dan alhasil sel kanker berkembang dan tumbuh. PD-1 adalah salah satu dari banyak immune checkpoint yang digunakan oleh sel kanker. 
 

Bagaimana cara kerja immune checkpoint?


Nivolumab dan pembrolizumab memblokir pos pemeriksaan PD-1. Atezolizumab memblokir PD-L1, yang berinteraksi dengan PD-1. Semua obat ini diberikan melalui infus ke dalam vena, atau secara intravena, di ruang praktek dokter.
 

Tidak semua orang mendapat manfaat dari imunoterapi


Para peneliti terus menggali dan memahami faktor-faktor apa yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang paling diuntungkan dari imunoterapi. Mereka mempelajari apa yang dapat membantu lebih baik. Pengobatan mungkin akan berhasil pada orang tertentu namun yang lain tidak.
 

Siapa yang dapat menerima nivolumab atau atezolizumab? 


Baik nivolumab dan atezolizumab disetujui untuk semua pasien dengan NSCLC lanjut setelah menerima kemoterapi pertama kali, terlepas dari tingkat ekspresi PD-L1.

Apa saja efek samping imunoterapi? Pasien memiliki lebih sedikit efek samping dari imunoterapi dibandingkan kemoterapi, tetapi efek samping dari imunoterapi tetap bisa berefek serius.

Banyak efek samping imunoterapi seperti reaksi kulit yang mirip dengan reaksi alergi, tetapi ada juga yang memerlukan perhatian medis segera, seperti radang usus dan paru-paru atau masalah dengan sistem endokrin (hormon).
 

Apa tindakan selanjutnya dalam imunoterapi? 


Para peneliti mencoba menggabungkan pendekatan untuk meningkatkan kemungkinan kerja imunoterapi seperti memasangkannya dengan penghambat checkpoint imun lainnya, kemoterapi, atau terapi radiasi.

Para peneliti juga mempelajari apakah menggunakan imunoterapi yang dikombinasikan dengan pembedahan atau terapi radiasi dapat menyembuhkan lebih banyak orang dengan penyakit tahap awal.
(YDH)