FITNESS & HEALTH

Sudah PTM, Ini Cara agar Anak Terlindungi meski Belum Divaksinasi

Raka Lestari
Sabtu 16 Oktober 2021 / 08:10
Jakarta: Sampai saat ini, vaksinasi untuk anak-anak baru dilakukan untuk mereka yang sudah berusia 12 tahun ke atas. Padahal, pembelajaran tatap muka (PTM) sudah mulai dilakukan. Hal ini tentu membuat banyak orang tua yang merasa khawatir.

Terkait anak sudah mulai masuk sekolah,  Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K) - Dokter Spesialis Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo meyakinkan bahwa, protokol sekolah tatap muka sudah sangat ketat. Anak-anak hanya sekitar 2 jam di kelas dan wajib menggunakan masker bahkan ada yang double masker, serta menambahkan face shiled.

"Selain itu, pembelajaran tatap muka pun hanya dua minggu sekali dan anak tidak membawa bekal sehingga tidak membuka masker selama di sekolah," ujar Prof. Rini dalam acara #GoodTalkSeries IG Live Good Doctor dengan Sentra Vaksinasi Serviam.

Sampai saat ini di DKI Jakarta yang sudah memberlakukan sekolah tatap muka, belum ada klaster sekolah. Meski kasus, ternyata anak tertular dari klaster di rumah. Karena anak-anak belum bisa divaksin, menurutnya salah satu upaya melindungi dar infeksi covid-19 dengan memberikan nutrisi yang sehat.

"Selain itu, karena anak-anak lebih banyak berkegiatan di rumah, berikan vitamin secukupnya saja jangan berlebihan, cukup vitamin D dan Vitamin C. Atau cukup multivitamin dan Vitamin D. Anak-anak tidak membutuhkan vitamin E secara khusus," kata Prof. Rini.

Menurut Prof. Rini, orang tua tidak perlu memberikan vitamin kepada anak secara berlebihan karena akan dibuang kelebihannya melalui urine. Vitamin D penting karena banyak anak kekurangan vitamin D terlebih setelah pandemi jarang aktivitas fisik di bawah sinar matahari.

Pada anak-anak sendiri, jika terinfeksi covid-19 biasanya ringan. Bahkan, sebagian besar tidak bergejala.

"Sedangkan yang dirawat pada umumnya memiliki penyakit penyerta. Anak-anak juga dapat mengalami long covid1-19, seperti orang dewasa meskipun jarang. Misalnya masih lemah dan mudah lelah,” tambah Prof. Rini.

“Beberapa penelitian memang menemukan kasus long covid namun tidak seberat orang dewasa. Misalnya tidak ada kasus hilang penciuman dalam waktu lama pada anak, hanya capek dan kadang-kadang batuk dan gatal-gatal terutama anak yang memiliki alergi. Kemungkinan karena daya tahannya belum pulih seperti biasanya,” tutup Prof. Rini.
(FIR)