FITNESS & HEALTH

Peran Akupunktur Atasi Sulit Tidur pada Lansia

Kumara Anggita
Senin 07 Juni 2021 / 18:00
Jakarta: Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh lansia adalah kurang tidur. Ini terjadi karena lansia memiliki pola tidur yang berbeda. 

Menurut Dr. Pukovisa Prawiroharjo Sp.S (K), Dokter Spesialis Saraf dari RSUI, usia 55-60 tahun setidaknya membutuhkan waktu tidur sekitar 7-6.5 jam, sementara untuk usia 80 tahun membutuhkan setidaknya 6 jam.

“Pola tidur pada lansia itu berubah sering dengan usia. Pola tidur ini berubah karena penurunan fungsi jam internal dalam tubuh,” ungkapnya dalam seminar awam 'Bicara Sehat RSUI Ke-40: Tidur Nyenyak Lansia Sehat di Era Pandemi.'

Perubahan pola tidur itu terlihat dari kebiasaan-kebiasaan yang biasanya dilakukan lansia. Berikut pola yang perlu diperhatikan.

- Siklus bangun tidur yang terpecah-pecah
- Tidur tidak senyenyak biasanya
- Lebih lama untuk memulai tidur
- Lebih sering terbangun di malam hari
- Lebih sering mengantuk di siang hari
- Lebih sering tidur siang
- Lebih sering terbangun di pagi hari



(Dokter Spesialis Akunpunktur Medik dari RSUI Depok, dr. Darwin Harpin, Sp.Ak menyarankan lansia yang kurang tidur bisa diatasi dengan akupunktur dan akupresur untuk membuat tidur menjadi lebih berkualitas. Foto: Ilustrasi/Dok. Wikipedia)


Untuk mengatasi ini, dr. Darwin Harpin, Sp.Ak yang merupakan Dokter Spesialis Akunpunktur Medik dari RSUI menyebutkan bahwa akupunktur medik dapat menjadi salah satu cara penanganan insomnia atau gangguan tidur.  

Stimulasi ke titik akupunktur akan dikirim ke tulang belakang kemudian ke organ-organ sesuai segmen tulang belakang yang akhirnya dapat sampai ke otak.

“Akupunktur dapat mengaktivasi otak untuk dapat membuat tidur menjadi lebih berkualitas, seiring dengan meningkatnya hormon endorfin yang berperan dalam memberikan energi positif serta efek penenangan bagi tubuh," kata dr. Darwin.

"Terapi akupunktur dalam mengatasi gangguan tidur dapat dilakukan dalam durasi sekitar 30 menit dengan frekuensi 2-3 kali per minggu yang nantinya akan dilakukan evaluasi setiap kedatangan untuk menyesuaikan modalitas terapi,” ujarnya. 

Selain itu, ia juga mengenalkan metode akupresur yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah yaitu metode stimulasi titik akupunktur menggunakan tekanan, misalnya dengan bantuan ibu jari. 

Dengan melakukan akupresur pada beberapa titik di tubuh pada beberapa penelitian kedokteran telah terbukti dapat membantu mengurangi gejala gangguan tidur.

Beberapa titik akupresur tersebut diantaranya ada pada titik EX-HN3 (pertengahan kedua alis), GV20 (titik puncak kepala), serta titik HT7 dan PC6 (sekitar pergelangan tangan). 

Dr. Darwin mengatakan metode akupuntur aman dan memiliki efek samping yang minimal. Metode ini tidak menimbulkan kontraindikasi spesifik dan efek sampingnya hanya sebatas rasa pegal dan mengantuk ringan, atau muncul lebam. Namun efek samping ini masih tergolong aman. 

“Mengatasi gangguan tidur sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter untuk mengetahui penyebabnya serta dapat diberikan saran penanganan yang tepat," saran dr. Darwin.

"Kemudian kita juga dapat melakukan hobi yang dapat merelaksasi pikiran kita misalnya dengan berkebun, dan kemudian metode akupunktur serta akupresur juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi gangguan tidur ini,” tutupnya.

(TIN)