FITNESS & HEALTH

Makanan yang Bisa Mengatasi Depresi selama Pandemi Covid-19

Raka Lestari
Selasa 23 Februari 2021 / 18:10
Jakarta: Pada masa pandemi covid-19 seperti sekarang, banyak orang yang mengalami perubahan mood atau bahkan mengalami depresi. Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi depresi, salah satunya melalui diet yang tepat.

“Diet yang tepat dapat memberikan otak lebih dari apa yang otak butuhkan, yang bisa membantu untuk mencegah depresi atau bahkan mengobatinya ketika masih dalam tahap awal,” ujar Lisa Mosconi, PhD, direktur Women’s Brain Initiative di Weill Cornell Medical College.
 

Makanan yang dapat membantu depresi


“Otak kita membutuhkan nutrisi tertentu untuk memproduksi zat kimia yang biasa digunakan untuk mengatur emosi,” kata Mosconi. Beberapa makanan tersebut di antaranya adalah:

- Ikan berlemak (salmon, mackerel, sarden, herring)

Ikan-ikan jenis ini kaya akan asam lemak omega-3, sejenis lemak yang dianggap dapat mengurangi tingkat keparahan gejala depresi dengan mengurangi inflamasi.

- Kalkun

Mengonsumsi kalkun dapat memenuhi kebutuhan triptofan, suatu asam amino yang biasa digunakan tubuh untuk memproduksi zat serotonin.

-Cokelat

Senyawa tertentu seperti flavonoid dan procyanid dapat ditemukan pada kakao, yang ada di dark chocolate. Keduanya dapat mengurangi inflamasi yang ada pada tubuh.

-Makanan probiotik

Para peneliti menemukan bahwa makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt dan kimchi mengandung bakteri hidup yang sangat membantu dalam menyeimbangkan bakteri pada usus.

-Buah dan sayuran

Mengonsumsi buah dan sayuran merupakan cara yang paling ampuh untuk melawan inflamasi karena mereka menandung antioksidan, senyawa yang dapat membantu sel tubuh dari kerusakan akibat inflamasi.
 

Makanan yang harus dihindari


Ada banyak makanan yang buruk bagi kesehatan mental, yang juga buruk bagi kesehatan mental. Berikut ini adalah beberapa makanan yang harus dihindari:

- Makanan olahan

“Makanan olahan atau yang digoreng biasanya mengandung trans fat dan berbagai zat kimia yang dapat meningkatkan risiko inflamasi. Inflamasi dapat menyebabkan depresi serta demensia,” kata Mosconi.

-Gula


Asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan inflamasi dan memengaruhi keseimbangan gula darah. Ini akan menyebabkan gejala seperti kecemasan dan kesulitan konsentrasi jika gula darah terlalu rendah, dan akan menyebabbkan kelelahan jika terlalu tinggi.
(FIR)