FITNESS & HEALTH

Vaksin Pfizer-Moderna Lebih Efektif dari Sinovac-Sinopharm untuk Covid-19?

Mia Vale
Rabu 11 Mei 2022 / 10:05
Jakarta: Di seluruh dunia, Indonesia khususnya, ada beberapa jenis vaksin untuk covid-19. Dan dalam indikator dunia nyata tentang bagaimana kinerja vaksin virus korona, Singapura telah menunjukkan bahwa suntikan yang diproduksi oleh Moderna dan Pfizer-BioNTech jauh lebih efektif dalam mencegah covid daripada dosis Sinopharm dan Sinovac yang dikembangkan di Tiongkok. Hal ini dikabarkan sebagaimana dikutip dari The Washington Post.

Bahkan ahli penyakit menular dari National Center for Infectious Diseases (NCID) dan Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura menyebut mereka yang menerima vaksin Sinovac 4,59 kali lebih mungkin mengalami covid-19 parah ketimbang penerima Pfizer-BioNTech. 

Selain itu dikatakan juga 2,37 kali lebih mungkin terinfeksi daripada Pfizer-BioNTech. Penelitian juga menunjukkan vaksin Moderna lebih efektif mencegah penyakit parah daripada vaksin Pfizer-BioNTech.

Mengutip laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, efektivitas yang lebih tinggi dari vaksin Moderna kemungkinan karena kandungan mRNA yang lebih tinggi dan interval waktu yang lebih lama antara suntikan. 


efektifitas vaksin Moderna
(Para peneliti menunjukkan vaksin Pfizer secara kuat dan terus-menerus mengaktifkan sejenis sel kekebalan pembantu yang membantu sel penghasil antibodi menciptakan sejumlah besar antibodi yang semakin kuat. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Vaksin Pfizer dan Moderna yang menggunakan teknologi mRNA disebut sebagai dua vaksin yang paling efektif yang pernah dikembangkan untuk melawan covid-19 di mana memiliki efektivitas 90 persen mencegah infeksi.

Semua itu juga diperkuat dengan studi terbaru dari penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di Rumah Sakit Penelitian Anak St. Louis dan St. Jude menyoroti kualitas respons imun yang dipicu vaksin mRNA. 

Para peneliti menunjukkan vaksin Pfizer secara kuat dan terus-menerus mengaktifkan sejenis sel kekebalan pembantu yang membantu sel penghasil antibodi menciptakan sejumlah besar antibodi yang semakin kuat dan juga mendorong pengembangan beberapa jenis memori kekebalan. Sel-sel ini bertahan hingga enam bulan setelah vaksinasi dan membantu tubuh menghasilkan antibodi yang lebih baik.

"Dari penelitian ini, kami menemukan respons sel pembantu folikel T ini terus berlanjut. Terlebih lagi, beberapa dari mereka merespons satu bagian dari protein lonjakan virus yang memiliki sedikit variasi di dalamnya," papar Philip Mudd, penulis penelitian sekaligus asisten profesor pengobatan darurat di Universitas Washington, seperti dikutip dari Sekolah Medis St. Louis Universitas Washington.

"Dengan variannya, terutama Delta dan sekarang Omicron, kami telah melihat beberapa peningkatan infeksi, tetapi vaksin telah bertahan dengan sangat baik dalam hal mencegah penyakit parah dan kematian. Saya pikir respons penolong folikel T yang kuat ini adalah bagian dari alasan mengapa vaksin mRNA terus dapat memberi proteksi," pungkas Mudd.

(TIN)