FITNESS & HEALTH

Fakta Tentang Berat Badan dan Kehamilan

Timi Trieska Dara
Selasa 24 November 2020 / 13:18
Jakarta: Masih ada perdebatan tentang penambahan berat badan selama kehamilan. Pedoman terkini dari Institute of Medicine (IOM) merekomendasikan kisaran kenaikan berat badan yang berbeda untuk wanita mulai dari 11 hingga 40 lbs (5-18 kg), berdasarkan indeks massa tubuh (BMI) sebelum kehamilan. 

Selama beberapa waktu diketahui bahwa secara umum kenaikan berat badan selama kehamilan berkaitan dengan ukuran bayi. Pedoman kesehatan masyarakat sering menyebutkan hubungan antara penambahan berat badan yang kemungkinan memiliki bayi yang kecil untuk usia kehamilan atau besar untuk usia kehamilan. 

Sebuah penelitian tahun 2000 yang mengikuti lebih dari 1000 bayi yang lahir kecil untuk usia kehamilan hingga anak tersebut sampai dewasa, melaporkan bahwa mereka memiliki prestasi akademis yang lebih rendah daripada orang dewasa yang melahirkan bayi berukuran normal saat lahir.

"Jika ada, kamu mungkin harus lebih peduli tentang penambahan berat badan yang terlalu sedikit daripada terlalu banyak," tulis Emily Oster, seorang profesor ekonomi di Brown University dan penulis Expecting Better.


kehamilan
(Penelitian masih harus membuktikan bahwa kenaikan berat badan ibu sedikit atau banyak saat hamil menyebabkan hasil terkait dalam kesehatan. Foto: Ilustrasi/Pexel.com)


Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) menegaskan bahwa sebagian besar wanita memperoleh lebih atau kurang dari yang direkomendasikan IOM. 

Para peneliti melakukan meta-analisis studi yang memasukkan data dari 1,3 juta kehamilan dan menemukan bahwa 47 persen wanita mengalami kenaikan berat badan lebih dari yang direkomendasikan IOM.

Dan 23 persen bertambah kurang dari yang disarankan. Apakah itu penyebab kekhawatiran? Secara medis, tergantung pada bagaimana kamu menafsirkan sisa temuan.

Menambah berat badan yang lebih sedikit yang disarankan IOM dikaitkan dengan kemungkinan lima persen lebih tinggi untuk memiliki bayi yang lebih kecil dari biasanya dan mengalami kelahiran prematur. 

Sebaliknya, bertambahnya berat badan dikaitkan dengan kemungkinan empat persen lebih tinggi memiliki bayi yang lebih besar dari biasanya, kemungkinan 6 persen lebih tinggi untuk mengalami makrosomia yaitu bayi dengan berat lebih dari 8 pon (3,6 kg) dan 4 persen peluang lebih tinggi untuk melahirkan dengan cara operasi caesar.

Secara umum risiko hasil kelahiran rendah, meskipun penulis penelitian menunjukkan bahwa hal itu dapat memengaruhi jumlah kelahiran yang tinggi. 

Karena lebih banyak penambahan berat badan dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi untuk operasi caesar, dan 47 persen wanita dalam penelitian ini memiliki berat badan di atas rekomendasi, yang artinya diterjemahkan menjadi 24.000 lebih banyak persalinan Caesar per tahun di AS, menurut penulis penelitian Dr Rebecca Goldstein, ahli endokrinologi di Monash Center for Health Research and Implementation.

Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa kenaikan berat badan ibu - apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit - menyebabkan hasil terkait kesehatan.

"Apakah wanita kurus karena sakit, merokok, atau memiliki kelainan makan?" kata Dr Mary Jane Minkin, seorang profesor klinis dari ilmu kebidanan, ginekologi, dan reproduksi di Yale School of Medicine (yang tidak terlibat dalam penelitian ini). 

"Ada banyak kondisi medis yang bisa dialami orang. Sulit untuk mengatakan apa yang menyebabkan dan korelatif dalam penelitian ini."

Meskipun penelitian menunjukkan bahwa 70 persen wanita tidak menambah berat badan dalam kisaran yang disarankan, peneliti mengatakan bahwa hal itu bukanlah kegagalan di pihak wanita hamil. Bahwa dokter merekalah yang harus memperhatikan temuan tersebut.
(TIN)