FITNESS & HEALTH

Perubahan Gaya Hidup selama Pandemi Bikin Prevalensi Mata Minus Meningkat

A. Firdaus
Selasa 23 Februari 2021 / 16:38
Jakarta: Temuan WHO menyebut, prevalensi myopia atau disebut juga mata minus terus meningkat. Setidaknya sekitar 40% dari populasi dunia atau 3,3 miliar orang akan menderita myopia pada 2030. Bahkan pada 2050 mendatang, diprediksi lebih dari setengah populasi dunia atau 4,8 miliar orang bakal mengalami myopia.

Salah satu yang paling berperan dalam peningkatan penderita myopia adalah gaya hidup selama pandemi covid-19, terutama pada anak-anak. Di Tiongkok contohnya, studi menjabarkan bahwa selama 2020, anak usia 6 sampai 8 tahun ternyata tiga kali lipat lebih rawan terkena myopia dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Mereka lebih sedikit waktu di luar ruangan dan lebih banyak waktu menatap layar menjadi pemicu. Seperti bermain gadget dan menatap PC saat belajar online.

"Di samping genetik, faktor risiko miopia lainnya adalah gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, pandemi covid-19 mengubah perilaku masyarakat. Aktivitas di luar ruangan jauh berkurang, sementara kelekatan terhadap gawai berlayar semakin tinggi," papar Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Ketua Layanan JEC Myopia Control Care.

"Anak-anak belajar jarak jauh secara daring, sedangkan kelompok dewasa juga bertumpu pada gadget untuk bekerja dan bersosialisasi. Artinya, semua kalangan usia semakin berpotensi terserang miopia," sambungnya.
 

Pertama Kalinya, Myopia Control Care Hadir di Indonesia


Tak ingin prediksi sembilan tahun atau belasan tahun tersebut terwujud, kini untuk pertama kalinya di Indonesia ada Myopia Control Care. JEC Eye Hospitals & Clinics, meluncurkan layanan terbaru Myopia Control Care yang menghadirkan penanganan mata minus secara menyeluruh berdasarkan tingkatan kebutuhan pasien.

JEC menjadi institusi kesehatan mata pertama di Indonesia yang memiliki sentra khusus miopia. Tersedia perdana di Rumah Sakit Mata JEC di Kedoya, layanan terbaru JEC ini menawarkan pilihan tindakan perawatan dan penanganan miopia yang ekstensif, dari terapi hingga tindakan koreksi berbasis laser (lasik).   

"JEC melalui Myopia Control Care memudahkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan penanganan miopia secara menyeluruh. Dengan demikian, mereka bisa memperoleh perawatan yang tepat berdasarkan kondisi miopia yang diderita, serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing," terang Dr. Gusti.

Bukan saja saja membuat penderitanya tak nyaman ketika beraktivitas, jika tidak segera diatasi, myopia bisa menyebabkan komplikasi lanjutan seperti mata malas, katarak, glaukoma, dan retina lepas. Bahkan, sampai kebutaan.

Karenanya, gejala miopia yang terkesan remeh. Antara lain sering memicingkan mata saat melihat, kesulitan memandang jauh ketika berkendara, sering mendekatkan mata ke layar TV atau ponsel, mata terasa lelah dan tegang, serta kerap mengucek mata patut diwaspadai. Pemeriksaan mata secara berkala (minimal 6-12 bulan sekali) menjadi kunci.   

"Myopia Control Care mengedepankan integrasi antar sub-spesialis mata di JEC. Artinya, pemeriksaan dan penanganan terhadap pasien, baik yang sudah menderita miopia ataupun berpotensi mata minus, meliputi seluruh aspek mata," jelas Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care.  

"Dari sisi teknologi, layanan ini juga diperkuat alat diagnostik termutakhir: Pentacam AXL, yang mampu mengukur seluruh data organ mata, seperti panjang bola mata, keadaan kornea dan ketebalan lensa,“ tegasnya.

Myopia Control Care menawarkan layanan dari tahapan awal. Mulai dari konsultasi dan screening mata secara komprehensif, hingga langkah-langkah treatment berdasarkan tingkatan kebutuhan dan usia (anak-anak hingga dewasa.

Tak hanya itu, pemberian vitamin, terapi obat tetes mata, anjuran penggunaan kacamata yang terkustomisasi, terapi lensa kontak (Ortho-K, RGP Lens, Scleral Lens), sampai koreksi refraksi dengan LASIK/ReLEx SMILE juga akan didapatkan oleh pasien.
(FIR)