FITNESS & HEALTH

Diabetes pada Anak: Jenis, Penyebab, dan Gejala

Raka Lestari
Rabu 18 November 2020 / 18:07
Jakarta: Jumlah pasien diabetes pada usia muda semakin meningkat. Deteksi dini dan pengobatan pada anak-anak serta remaja dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran mereka sepanjang hidup.

Meskipun diabetes tipe 1 cukup umum pada usia muda, baik diabetes tipe 1 atau tipe 2 dapat terkena pada anak-anak dan remaja.
 

Diabetes tipe 1


Diabetes tipe 1 pada anak-anak atau remaja terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Tanpa insulin, gula tidak dapat berpindah dari darah ke dalam sel, dan kadar gula darah yang tinggi dapat terjadi.

Orang dapat mengembangkan diabetes tipe 1 pada semua usia, dari anak usia dini hingga dewasa. Tetapi usia rata-rata saat diagnosis adalah 13 tahun. Diperkirakan 85% dari semua diagnosis tipe 1 terjadi pada orang berusia di bawah 20 tahun.
 

Diabetes tipe 2


Diabetes tipe 2 lebih jarang terjadi pada anak kecil, tetapi dapat terjadi ketika insulin tidak bekerja dengan benar. Tanpa insulin yang cukup, glukosa dapat menumpuk di aliran darah.

Kemungkinan terkena diabetes tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi anak-anak juga dapat mengembangkannya. Angka diabetes tipe 2 meningkat seiring dengan peningkatan obesitas pada anak.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa obesitas memengaruhi sekitar 18,5% anak-anak dan remaja berusia 2–19 tahun di Amerika Serikat pada 2015–2016.
 

Gejala


Gejala diabetes serupa pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Beberapa gejala umum terjadi pada kedua jenis diabetes, tetapi ada beberapa perbedaan untuk membantu membedakannya.

Gejala diabetes tipe 1 pada anak cenderung berkembang pesat selama beberapa minggu. Sedangkan diabetes tipe 2 berkembang lebih lambat. Mungkin diperlukan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menerima diagnosis.
 

Tanda awal


Menurut survei pada 2012 dari Diabetes UK, hanya 9% orang tua yang dapat mengidentifikasi empat gejala utama diabetes tipe 1 pada anak mereka. Pada 2013, angka ini meningkat menjadi 14%.

Beberapa anak bahkan tidak terdiagnosis sampai gejala mereka sudah parah. Mendapatkan diagnosis yang terlambat bisa berakibat sangat fatal.
(FIR)