FITNESS & HEALTH

5 Jenis Kelainan Genital yang Terjadi pada Anak

Raka Lestari
Sabtu 05 Juni 2021 / 11:23
Jakarta: Banyak orang tua yang mungkin tidak menyadari kelainan genital bawaan yang dialami oleh anaknya. Padahal, penanganan medis yang dilakukan segera dan tepat dapat membantu agar anak yang memiliki kelainan genital bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Kasus kelainan genital karena bawaan lahir umumnya terjadi akibat pembentukan organ genitalia yang tidak sempurna selama bayi di dalam kandungan. Proses pembentukan organ genitalia ini  melibatkan banyak faktor, mulai dari faktor genetik (kromosom seks), gonad, hormon, hingga reseptor hormon. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
 

1. Fimosis


“Kasus kulit penis menutupi lubang kencing atau fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir masih dianggap sebagai kasus normal sampai usia anak 3 tahun," jelas Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K), Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI.

Seiring perkembangan usia, pada 90 persen anak laki-laki dengan fimosis, lubang kencing tersebut akan terbuka dan terlihat. Orang tua tidak perlu terlalu khawatir, tetapi terus melakukan pemeriksaan genital anak.

Namun jika pada fase tersebut timbul infeksi, sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter. Pengobatannya dengan cara memaparkan lubang kencing dari penempelan kulit penis dan memberikan salep. Jika upaya ini tidak efektif, perlu dilakukan sunat.
 

2. Buried penis


"Buried penis atau penis yang tenggelam biasanya diamati pada lapisan lemak perut bawah yang agak tebal, dekat kelamin. Pada kasus itu, penis tertarik masuk ke dalam perut. Orang tua biasanya menduga penis anaknya kecil, padahal sebenarnya tenggelam atau tertarik oleh jaringan di bawah kulit," jelas dr. Irfan.

Pengobatannya bisa dengan sunat, tetapi berbeda dengan sunat pada umumnya, karena memerlukan teknik rekonstruksi khusus dengan cara membebaskan bagian yang menarik penis agar lepas.
 

3. Hipospadia


Hipospadia merupakan cacat lahir pada anak laki-laki di mana lokasi uretra tidak terletak di ujung penis. Pada anak laki-laki dengan hipospadia, uretra terbentuk secara abnormal pada  minggu ke 8-14  kehamilan.

Letak lubang uretra berada di bagian bawah dengan variasinya, mulai dari tepat di bawah  ujung penis hingga skrotum. Ada beberapa tingkatan dalam hipospadia, ada kasus hipospadia yang ringan yang baru diketahui saat anak akan menjalani sirkumsisi dan ada kasus dengan tingkatan yang lebih parah dan dapat terlihat pada saat pemeriksaan fisik.
 

4. Mikropenis


Mikropenis merupakan kondisi dimana penis memiliki ukuran yang lebih kecil (-2,5  dari standar deviasi) dari rentang panjang penis normal sejak bayi atau anak. Kondisi mikropenis jarang ditemukan karena secara global ditemukan hanya sekitar 0,6% laki-laki yang mengalami kondisi mikropenis.
 

5. Testis tidak turun


Testis tidak turun (undescended  testis/UDT) merupakan salah satu kelainan bawaan yang paling umum terjadi pada alat genital laki-laki. Testis yang tidak turun adalah kondisi tidak terabanya testis di dalam salah satu atau kedua skrotum yang diakibatkan oleh kegagalan penurunan testis dari dalam perutke skrotum.
(FIR)