FITNESS & HEALTH

Gaya Hidup 'Couch Potato' Sumbang 8 Persen Kematian Global

Sandra Odilifia
Jumat 02 April 2021 / 10:08
Jakarta: Couch potato atau kentang sofa merupakan perilaku menetap yang menyumbang hingga 8 persen dari penyakit tidak menular dan kematian di seluruh dunia, kata para peneliti.

Ketidakaktifan fisik merupakan faktor risiko yang diketahui sebabkan kematian dini dan beberapa penyakit tidak menular. Termasuk penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

Dalam sebuah studi baru, para peneliti menganalisis data pada 2016 dari 168 negara. Hasilnya, peneliti menemukan proporsi penyakit tidak menular yang disebabkan oleh ketidakaktifan fisik berkisar dari hampir 2 persen untuk tekanan darah tinggi dan lebih dari 8 persen untuk demensia.

Mencukil dari Health Day, ketidakaktifan fisik didefinisikan sebagai kurang dari 150 menit aktivitas dengan intensitas sedang, atau 75 menit aktivitas fisik dengan intensitas kuat per minggu.

Orang di negara kaya memiliki risiko dua kali lebih besar untuk penyakit yang berhubungan dengan ketidakaktifan fisik, daripada orang di negara miskin. Pada 2016, tingkat ketidakaktifan fisik di negara-negara kaya diperkirakan lebih dari dua kali lipatnya negara-negara berpenghasilan rendah.

Namun, negara-negara berpenghasilan menengah memiliki jumlah orang yang paling berisiko terhadap ketidakaktifan karena populasi mereka yang lebih besar. Ini berarti 69 persen dari semua kematian dan 74 persen kematian akibat penyakit jantung terkait dengan ketidakaktifan fisik di seluruh dunia.

Faktanya, 80 persen kematian akibat penyakit tidak menular terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Beban kematian terbesar yang terkait dengan ketidakaktifan fisik adalah negara-negara Amerika Latin dan Karibia, serta negara-negara Barat dan Asia Pasifik yang berpenghasilan tinggi," ujar para peneliti yang dipimpin oleh Peter Katzmarzyk, dari Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, La.

Sementara menurut penelitian tersebut angka terendah terjadi di negara-negara sub-Sahara Afrika, Oseania dan Asia Timur serta Tenggara. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara online pada 29 Maret di British Journal of Sports Medicine.

Untuk diketahui, ini adalah studi observasional, jadi tidak dapat menetapkan sebab dan akibat. Tetapi para peneliti dalam rilis berita jurnal menyebut beban kesehatan masyarakat yang terkait dengan ketidakaktifan fisik, benar-benar merupakan masalah global yang akan membutuhkan kolaborasi internasional, untuk memobilisasi perubahan dan mencapai tujuan kesehatan masyarakat ini.

Sebelumnya, pada 2018, Majelis Kesehatan Dunia menetapkan tujuan untuk mengurangi tingkat ketidakaktifan fisik di seluruh dunia sebesar 15 persen pada tahun 2030.
(FIR)