FITNESS & HEALTH

Bahaya Berolahraga di Luar Rumah saat Kualitas Udara Buruk

Raka Lestari
Kamis 08 Oktober 2020 / 12:19
Jakarta: Berolahraga di luar rumah memang sangat dianjurkan karena dengan begitu bisa membuat kulit Kamu terkena sinar matahari yang baik untuk tubuh. Akan tetapi, jika kualitas udara di luar rumah sedang buruk apakah berolahraga di luar rumah tetap dapat memberikan manfaat?

Polusi udara adalah istilah yang cukup luas untuk menggambarkan campuran zat berbahaya dari sumber buatan manusia dan alam, menurut National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS).

Menurut NIEHS, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kualitas udara yang buruk, mulai dari emisi kendaraan, bahan bakar minyak dan gas alam, asap pabrik, asap dari produksi kimia, asap dari kebakaran hutan. Kemudian, gas dari erupsi vulkanik, dan gas metana yang timbul dari bahan organik yang membusuk di tanah.

Ada banyak risiko ketika melakukan olahraga di luar rumah saat kualitas udara sedang buruk. Beberapa partikel halus berbahaya dapat terhirup ke dalam jaringan paru-paru, yang dapat menyebabkan penyakit serius dari waktu ke waktu.

“Partikel halus berpotensi mencapai alveoli, atau kantung udara kecil di paru-paru yang merupakan tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Dari situ, udara dapat menuju ke darah dan partikel tersebut dapat menyebabkan masalah di sana,” jelas Raymond Casciari, MD, ahli paru di St. Joseph Hospital, California, seperi dilansir Health

Menurut Dr Casciari, dalam jangka pendek menghirup udara berkualitas buruk dapat menyebabkan gejala seperti batuk, kesulitan bernapas secara normal, mata perih, pilek, mengi, nyeri dada, dan sesak napas. Namun seiring waktu, terkena polusi udara dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

NIEHS secara khusus mencantumkan beberapa potensi masalah kesehatan yang mungkin terjadi ketika menghirup udara berkualitas buruk:

- Peningkatan risiko penyakit paru-paru, termasuk asma, emfisema, dan penyakit paru obstruktif   kronik (PPOK)
- Bronkitis kronis
- Fungsi pembuluh darah terganggu
- Meningkatnya risiko stroke
- Gangguan hipertensi
- Peningkatan risiko kanker, termasuk kanker paru-paru dan payudara
(YDH)