FITNESS & HEALTH

Waspada Parosmia, Gejala Baru Covid-19: Kenali Gejala dan Penyebabnya

Muhammad Syahrul Ramadhan
Selasa 05 Januari 2021 / 17:52
Jakarta: Salah satu gejala seseorang terinfeksi covid-19 adalah mengalami gangguan penciuman. Salah satunya adalah hilangnya kemampuan membau atau anosmia.

Namun, baru-baru ini ditemukan gejala baru covid-19. Dimana, seseorang yang terinfeksi virus ini mempresepsikan bau yang berbeda dari yang seharusnya. Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anton Sony Wibowo menjelaskan gangguan penciuman ini disebut parosmia.

Anton mencontohkan, saat membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Anton menjelaskan persepi bau yang muncul akibat parosmia beragam. Hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.
 

Gejala Parosmia

Dikutip dari healthline gejala utama parosmia ini adalah penderita merasakan bau busuk yang terus menerus, terlebih ketika ada makanan. Selain itu juga penderita kesulitan mengenali bau di yang ada disekitarnya.

Jika kasusnya parah, penderita akan merasakan sakit secara fisik saat mencium bau yang tidak sedap, ataupun menyengat.
 

Penyebab  Parosmia

Anton menjelaskan penyebab parosmia dalam kasus covid-19 adalah virus SARS Cov 2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.  

Dalam kasus secara umum, arosmia juga disebabkan oleh hal yang beragam. Beberapa diantaranya infeksi saluran pernapasan atas, cedera kepala, atau kelainan otak seperti tumor otak.

Anton yang merupakan Dosen FKKMK UGM ini mengatakan gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3-70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.
(ACF)