FITNESS & HEALTH

Penyakit Paru Kronik, Penyakit Berbahaya yang Sering Diremehkan

Raka Lestari
Selasa 30 November 2021 / 15:25
Jakarta: PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) merupakan penyakit yang berbahaya. Di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta jiwa penderita PPOK dengan prevalensi lebih tinggi pada pria, dan akan semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Meningkatnya kejadian PPOK dihubungkan dengan bertambahnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan faktor risiko, semakin banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam ruangan, di luar ruangan, dan di tempat kerja.

Menurut dr. Aditya Wirawan, Ph.D, Sp.P, Dokter Spesialis Paru di RSUI, PPOK merupakan suatu penyakit paru yang ditandai hambatan aliran udara, bersifat kronik dan progresif. Penyakit ini jika semakin lama akan semakin berat.

Ia mengungkapkan data yang diambil dari WHO pada 2002, PPOK menempati urutan ketiga setelah penyakit kardiovaskular dan kanker yang menjadi penyebab kematian di dunia. Di Indonesia diperkirakan 4.8 juta orang menderita PPOK, angka ini bisa bertambah semakin banyaknya jumlah perokok karena 90 persen penderita PPOK adalah perokok atau mantan perokok

Terdapat gejala umum dan derajat skala sesak dari penyakit PPOK, dimulai dari derajat 0 hingga derajat 4. Berikut penjelasannya:

1. Derajat 0 yaitu tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat.

2. Derajat 1 yaitu sesak timbul bila berjalan cepat atau ketika berjalan menanjak.

3. Derajat 2 yaitu berjalan lebih lambat dari orang sebayanya karena sesak

4. Derajat 3 muncul setelah berjalan 100 meter atau setelah berjalan beberapa menit.

5. Derajat 4 yaitu sesak muncul saat mandi atau berpakaian.

“Sesak yang dialami oleh penderita PPOK disebabkan terjadinya perubahan struktur anatomi paru. Kantung paru menjadi melebar, sehingga udara mudah masuk, namun udara tersebut akan sulit keluar, sehingga produksi dahak akan meningkat. Fenomena ini dikenal dengan fenomena bottle neck.” jelas dr. Adit.

Untuk mendiagnosa PPOK, pasien sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, pemeriksaan dan melakukan tes spirometri. Jika ditemukan pada fase awal, PPOK dapat lebih mudah ditangani dan tidak berkembang ke tahapan yang lebih parah.

“PPOK adalah penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, namun akan berbahaya jika tidak ditangani. Oleh karena itu sebaiknya kita rutin untuk memeriksakan kesehatan paru, hindari pajanan zat berbahaya, salah satunya dengan berhenti merokok,” tutup dr. Adit.
(FIR)