FITNESS & HEALTH

Cara Membedakan Inflammatory Bowel Disease dengan Inflammatory Bowel Syndrome

Raka Lestari
Jumat 22 Januari 2021 / 12:11
Jakarta: Penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis. Jika tidak diobati secara tepat bisa menciptakan komplikasi hingga kematian bagi penderitanya.

Namun sayangnya, sampai saat ini kesadaran masyarakat masih rendah terhadap IBD. Hal ini karena gejala umum IBD adalah diare, di mana masyarakat masih sulit membedakan diare biasa dengan diare yang mengarah pada IBD. Selain itu, banyak orang yang sulit membedakan IBD dengan irritable bowel syndrome (IBS).

“Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak (diare). Namun IBS masih diklasifikasi sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan, sedangkan IBD sudah diklasifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan  kerusakan pada saluran cerna," ujar Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Gastroenterologi Hepatologi RSCM-FKUI.

Prof. Murdani juga menjelaskan bahwa IBD tentu lebih berbahaya. Sebab dapat menyebabkan peradangan yang merusak dan kerusakan ini bisa bersifat permanen pada usus.

"Bahkan satu komplikasinya bisa meningkatkan risiko Kanker Usus Besar,” tutur Prof. Murdani, dalam acara Virtual Media Seminar: Waspadai komplikasi dan kematian akibat Inflammatory Bowel Disease (IBD), penyakit autoimun di saluran cerna.

“Pada dasarnya, penyebab IBD belum diketahui jelas. IBD ini tentu disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh. Namun, kesalahan pada diet dan tingkat stres berlebih juga bisa memicu terjadinya IBD.  Faktor keturunan juga berperan dalam IBD meskipun angka penderitanya sangat sedikit,” jelas Prof. Murdani.

Pada dasarnya, IBD terbagi menjadi 2 tipe, yaitu Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease. Kini   terdapat juga tipe yang lain dari IBD, yaitu Colitis Indeterminate (Unclassified). Pada Ulcerative Colitis (UC), terjadi peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rectum, sehingga sering merasa nyeri di bagian kiri bawah perut.

Sedangkan pada Crohn’s Disease (CD), terjadi peradangan hingga lapisan saluran pencernaan yang lebih dalam. Sehingga sering merasa nyeri di bagian kanan bawah perut namun pendarahan dari rektum cenderung lebih jarang.

Prof. Murdani menambahkan, gejala penyakit radang usus berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan peradangan dan lokasi terjadinya peradangan.

“Namun pada UC dan CD, keduanya memiliki tanda dan gejala umum yang perlu diwaspadai seperti diare, kelelahan, sakit perut dan kram, nafsu makan berkurang, darah pada feses, dan penurunan berat badan,” tutup Prof. Murdani.
(FIR)