FITNESS & HEALTH

Bocah 'Pemakan' Kertas dari Sisi Psikolog Anak

Yatin Suleha
Jumat 25 Maret 2022 / 17:41
Jakarta: Sejak usia dua tahun, Gibran dicurigai memakan kertas, styrofoam, serta ujung-ujung sendal jepit. Hal ini diakui sendiri oleh sang ibunda. Dalam banyak artikel hal tersebut biasa disebut dengan Sindrom Pica yaitu gangguan makan aneh yang sering terjadi pada balita.

Walau tidak pernah ada gangguan pencernaan dari tahun lalu hingga tahun ini, apa yang dilakukan Gibran menjadi concern pada kesehatannya. Dalam wawancara Metro TV, program Selamat Pagi Indonesia sang ibu memaparkan kondisi Gibran dan dilihat dari sisi psikolog.

Dalam wawancara eksklusif Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung memaparkan hal ini.
 

1. Mengapa anak bisa makan makanan yang aneh?


"Masa kanak-kanak adalah masa eksplorasi, hal ini karena fungsi otak sedang berkembang dengan pesat. Sampai dengan usia lima tahun, bagian otak bisa berkembang sampai 90 persen. Hal inilah yang membuat anak-anak dalam proses eksplorasi akan mencoba berbagai hal," buka penulis buku "Survive Menghadapi Quarter Life Crisis" ini.

"Namun karena bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan kebijaksanaan berpikir belumlah berkembang pada anak, hal ini yang membuat anak bisa saja melakukan hal-hal yang keliru, termasuk memakan makanan yang tidak wajar," beber Psikolog Efnie lagi.


anak pemakan kertas
(Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan agar sebaiknya si kecil didampingi agar kebiasaan yang tak diinginkan tidak berlanjut. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

2. Dalam banyak artikel kesehatan, ini disebut dengan sindrom pica. Apa saja tanda-tandanya pada anak?


"Dalam proses perkembangan seorang anak, semua anak akan melewati fase oral, di mana anak akan memasukkan benda apa pun ke mulutnya. Namun, jika tidak disertai pendampingan, maka kebiasaan ini bisa saja berlanjut karena tidak ada yang memberitahukan hal yang boleh dimasukkan ke mulut atau tidak," jelas Efnie.
 

3. Bagaimana cara mengatasi sindrom pica ini jika sudah terlanjur mengalaminya?


"Anak tidak sekedar diterapi, namun harus disertai pendampingan yang ketat oleh orang tua. Anak diajarkan utk memasukkan hal-hal yang aman ke mulutnya dan ini butuh dilakukan secara konsisten."
 

4. Apakah ada minimal perhatian agar anak tidak menjurus ke sindrom pica? 


"Intinya saat tumbuh kembang anak sedang pesat, sebaiknya anak tidak ditinggalkan sendiri. Namun, anak harus didampingi dan diberikan perhatian serta kasih sayang yang cukup. Inilah yang akan membentuk habit yang baik pada anak di kemudian hari nanti."
 

5. Apa saja yang bisa terjadi pada batita yang kurang perhatian?


Menurut Psikolog Efnie, beberapa di antaranya: 

- Anak sulit untuk mengenal perasaannya sendiri, karena tidak ada yang mendampingin dan memberikan penjelasan tentang apa yang ia rasakan. Ini bisa berujung pada gangguan emosi
- Sulit mengembangkan keterampilan dalam bersosialisasi, karena belajar bersosialisasi diawali dari relasi orang tua-anak
- Lack of self esteem, merasa diri tidak berharga karena tidak dihargai sejak kecil
- Sulit trust pada orang lain, karena sejak kecil trust pada orang tua tidak terbentuk

(TIN)