FITNESS & HEALTH

Terapi Target Bisa Menjadi Pilihan bagi Pasien Kanker Paru di Masa Pandemi

Raka Lestari
Jumat 27 Agustus 2021 / 10:10
Jakarta: Terkait pandemi covid-19, pada dasarnya pasien kanker sangat rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Hal ini terjadi karena kontak yang sangat sering dengan sistem perawatan kesehatan, keadaan imun yang semakin rendah akibat kanker atau terapinya, dan yang paling utama karena terkait usia lanjut dan komorbiditas mereka.

Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid,FINASIM, FACP dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik RSCM menyatakan, beberapa penelitian menunjukkan, pasien dengan kanker paru dan mereka yang memiliki penyakit ganas terkait hematologi tampaknya memiliki risiko kematian tertinggi akibat infeksi SARS-CoV-2.

Oleh sebab itu, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini, terkhusus bagi pasien.  Apalagi banyak terapi yang mengharuskan pasien menjalaninya langsung di rumah sakit.

"Namun, pengobatan kanker paru tidak terhalangi dengan adanya covid-19. Pasien kanker paru, meskipun tergolong immunocompromised, dapat menjalani pengobatan tanpa kendala. Beberapa perkumpulan kanker dunia sama-sama membuat panduan untuk terapi kanker," ujar dr. Ikhwan.

Dari berbagai jenis terapi kanker, terapi target merupakan jenis terapi dalam bentuk tablet/kapsul yang dapat dikonsumsi di rumah. Metode terapi ini dapat memudahkan pasien, terutama dalam keadaan pandemi. Terapi dengan metode ini dapat mengurangi jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit, sehingga meminimalkan paparan pasien kanker paru terhadap Covid-19.

Selain itu, terapi target memiliki efek samping yang cenderung dapat ditoleransi dengan baik seperti mual, muntah, diare, dan gangguan fungsi hati. Namun, jumlah tablet atau kapsul terapi target yang perlu dikonsumsi pasien sangat bervariasi, dari 1 hingga 8 butir dalam sehari. Oleh karena itu, kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi terapi target harus tetap terjaga untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal.

“Masalah utama penanganan kanker paru sebenarnya pada biaya pengobatan yang luar biasa. Sakit yang berat membuat pasien menjadi sangat disiplin minum obat jika tak ada efek  samping yang berarti," ujar dr. Ikhwan.

"Selama ini pasien yang mendapat ALK inhibitor tidak terlalu mendapat efek samping berarti yang membuat mereka intoleran terhadap obat tersebut. Tantangannya ada pada akses serta beban biaya,” tutup dr. Ikhwan.

Hi Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/OVO @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkedan. Salam hangat.
(FIR)