FITNESS & HEALTH

Rekomendasi Makanan untuk Mencegah Stunting

Kumara Anggita
Rabu 09 Juni 2021 / 18:03
Jakarta: Stunting masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh orang Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memberikan nutrisi yang tepat kepada bayi.

Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM menjelaskan bahwa, stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang (kronis).

“Bisa karena asupan nutrisinya tidak cukup, atau karena kebutuhannya meningkat misalnya karena anak sakit,” jelas Dr. dr. Damayanti dalam acara Milk Versation Hari Gizi Nasional, Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang.

Dr. dr. Damayanti melanjutkan, stunting selalu dimulai dari penurunan berat badan (BB) atau weight faltering akibat asupan nutrisi yang kurang. Saat berat badan mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting.

Anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, sebanyak 50-60 % energi dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan nutrisinya kurang, maka otak yang akan dikorbankan terlebih dulu.

Anak yang ‘baru’ mengalami weight faltering saja bisa mengalami penurunan IQ hingga 3 poin. Bisa dibayangkan betapa banyak penurunan IQ yang mungkin muncul bila anak sampai stunting.

Selain fungsi kognitif terganggu, pembakaran lemak pun terganggu. Sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas.

“Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting,” ujar Dr. dr. Damayanti.

Otak dan sinapsis-sinapsisnya berkembang pesat selama 1000 hari pertama kehidupan atau hingga anak berusia 2 tahun. Sampai usia dua tahun, anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali, karena dampaknya irreversible.

Selewat masa ASI eksklusif 6 bulan, selain pemberian ASI, asupan lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi adalah MPASI. Komposisi MPASI idealnya juga menyerupai komposisi ASI; harus mengandung karbohidrat, lemak, dan protein.

Sejak awal memberikan MPASI hingga usia 2 tahun, ketiga makronutrisi ini harus tercukupi, untuk mendukung pertumbuhan otaknya.

"Protein utamakan hewani, karena dalam ASI, komposisi protein hewani lebih banyak. Kandungan asam amino pada protein hewani lengkap,” terang Dr. dr. Damayanti.

Sedangkan protein nabati, asam aminonya kurang lengkap. Protein hewani boleh digabung dengan protein nabati, asal selengkap asam amino esensial pada ASI.

Jadi, jangan ragu untuk memberikan protein hewani ini ya. Dengan seperti itu, risiko anak terkena stunting bisa berkurang.
(FIR)