FITNESS & HEALTH

Tips Berolahraga bagi Penderita Hipertensi, Jangan Memaksakan jika Sedang Sakit

Raka Lestari
Selasa 04 Mei 2021 / 14:21
Jakarta: Berolahraga memang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya adalah bagi seseorang yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi. Seseorang disebut menderita hipertensi bila tekanan sistolik >140 mmHg, dan diastolik >90 mmHg.

"Saat bergerak, kita akan menggunakan anggota-anggota gerak kita. Kita menggerakkan otot dan tulang-tulang. Di situlah kita membutuhkan aliran darah dari jantung," ujar dr. Michael Triangto, Sp.KO, Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga dalam acara: Kelas Online Penuh Inspirasi (KOPI) Sehat bersama Good Doctor dan Samsung Galaxy Watch.

Menurut dr. Michael, gerakan yang dilakukan tersebut akan menaikkan denyut jantung, yang bisa dimonitor dari denyut nadi. Berolahraga akan memaksa jantung berdenyut lebih kuat, dan menaikkan tekanan darah. Setelah selesai olahraga, kata dr. Michael, denyut nadi akan berkurang. Dengan demikian tekanan darah jadi lebih terkontrol.

"Olahraga bagus untuk jantung dan tekanan darah, tapi harus diperhatikan. Kalau kita paksakan terus, justru bisa menaikkan tekanan darah melampaui batas-batas kemampuan. Bisa menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan kematian. Jadi kita harus tahu tujuan kita berolahraga itu apa, dan sampai mana batas kemampuan kita," jelas dr. Michael.

Olahraga yang terbaik untuk penderita hipertensi adalah yang berjenis aerobik atau disebut juga kardio (kardiorespirasi). Jadi diharapkan akan melatih kardio dan pernapasan kita. Gerakannya berulang-ulang, intensitas ringan, dan waktu melakukannya panjang.

"Misalnya jalan cepat, jogging, bersepeda, berenang. Itu adalah jenis-jenis olahraga yang dapat digunakan untuk membantu mengontrol atau menurunkan tekanan darah yang tinggi. Meskipun olahraga bagus untuk mengontrol tekanan darah. Tapi kalau sedang sakit kepala, jangan memaksakan untuk berolahraga," ujar dr. Michael.

Untuk itu kamu bisa memeriksanya. Mengukur denyut nadi atau tekanan darah dengan device tertentu, dan bisa melihat catatannya di aplikasi HP/ dan bisa juga pakai tensimeter digital.

"Kalau misalnya tekanan darah kita biasanya 120 lalu sekarang 160, jangan olahraga. Demikian juga denyut nadi. Misalnya biasanya 80-an, tapi sekarang 90-100, lebih baik tangguhkan dulu olahraganya, sampai kita konsultasi ke dokter. Konsultasi kan skrg bisa via online. Jadi kita tahu kondisi kita bagaimana, dan apakah layak untuk berolahraga. Jangan memaksakan diri," tutup dr. Michael.
(FIR)