FITNESS & HEALTH

Awkarin Mengaku Mempunyai Bipolar dan BPD, Apakah Itu?

Yatin Suleha
Senin 25 Oktober 2021 / 18:30
Jakarta: Kita mengenalnya sebagai Awkarin. Pemilik nama asli Karin Novilda Sulaiman ini awalnya viral karena video menangis akibat putus cinta. Sejak itu selebgram cantik ini terus menjadi cretor content kreatif yang menaikkan namanya.

Namun dalam video YouTube Menjadi Manusia yang berjudul "Dari Perspektif Karin Novilda tentang Mencari Makna Bahagia" yang tayang pada 20 Oktober lalu, Awkarin blak-blakan dengan hal yang ia alami. Ia memiliki Bipolar dan Borderline Personality Disorder (BPD)

"Gue juga lagi on going ngurus bisnis-bisnis yang lain juga, karena memang gue mau pensiun dari dunia influencer-an ini istilahnya sebenarnya," papar perempuan kelahiran lahir 29 November 1997 dalam YouTube tersebut.

"Gue enggak menemukan kestabilan aja sih, kestabilan secara finansial, mental, dan kebahagiaan di dunia entertainment industry social media ini sih," sahut dia lagi.

Di menit 1:27 ia mengatakan bahwa ia mengidap bipolar dan BPD. "Gue sebenarnya mengidap bipolar dan BPD," ucap Karin. Rencana pensiunnya Awkarin bukannya tanpa alasan. Ini diakui dalam video yang sudah ditonton 114,285 orang, bahwa dunia media sosial juga ikut berperan dalam hal yang ia lalui. "Di sosial media juga take part, membuat kondisi aku kadang lebih buruk," aku Karin.


Awkarin bipolar dan BPD
(Dr. A. A. A. Agung Kusumawardhani, Sp.KJ(K) memaparkan, berdasarkan data tahun 2007 di Indonesia, prevalensi penderita gangguan bipolar jumlahnya bervariasi, antara satu hingga empat persen dari populasi. Sementara, dari jenis gangguan bipolar, umumnya hanya satu persen. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 
 

Mengenal bipolar dan BPD


Jadi, apa itu bipolar dan BPD seperti yang diderita oleh Awkarin? Dinukil dari laman Alodokter, ditinjau oleh dr. Tjin Willy bahwa gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Setiap fase emosi dapat berlangsung dalam hitungan minggu atau bulan. Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. 

Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti genetik, sosial, lingkungan, juga fisik.

Sedangkan Borderline Personality Disorder (BPD) adalah gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta adanya pola tingkah laku abnormal.

Dalam laman Halodoc disebutkan BPD dapat menimbulkan gangguan fungsi seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal dengan sekitarnya. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa, tetapi dapat juga membaik seiring bertambahnya usia.

Ciri kepribadiaan terentu bisa menjadi faktor risiko untuk berkembangnya BPD pada diri seseorang. Misalnya, mereka yang memiliki kepribadian agresif dan impulsif.
 

Beberapa gejala BPD antara lain:


1. Perubahan citra dan identitas diri yang berlangsung dengan cepat, sehingga memengaruhi nilai-nilai dan tujuan yang diketahuinya

2. Mengalami periode stres yang memicu paranoia, serta kehilangan hubungan dengan kenyataan yang dapat berlangsung hingga beberapa jam

3. Mengalami perubahan suasana hati yang berlangsung hingga berhari-hari

Dalam paparan National Institute of Mental Health serta Mayo Clinic, BPD perlu penanganan terapi psikologi untuk mengatasinya. Senada dengan bipolar, dokter akan menganjurkan penggunaan obat atau terapi khusus. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien perlu melakukan pemeriksaan secara langsung ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Dalam video yang sama Karin juga menerangkan bahwa ia saat ini sudah tahu terapi-terapi apa saja yang ia harus lakukan untuk menangani dirinya. 

"Jadi makanya kan kalau sekarang aku udah tahu nih terapi-terapi yang harus aku lakukan ketika misalnya aku lagi down atau apa pun itu, ya aku memutuskan untuk enggak on social media dulu," pungkas Karin.
(TIN)