FITNESS & HEALTH

Mau Persalinan dengan Metode ERACS? Ini yang Harus Diperhatikan

Rendy Renuki H
Jumat 14 Januari 2022 / 19:49
Jakarta: Proses persalinan dengan metode ERACS makin marak setelah sejumlah selebriti Indonesia melakukan proses lahiran secara caesar dengan metode tersebut. Beberapa keunggulan dalam metode ini membuat digandrungi wanita hamil jika dibandingkan metode caesar konvensional.

Prosedur ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery) ini sendiri merupakan pengembangan dari konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Awalnya metode ini digunakan pada operasi bedah digestif atau operasi bedah umum.

Metode ini sebenarnya sudah dapat dilakukan sejak lama, tetapi baru kembali booming di masa pandemi ini. Di mana pasien mengharapkan dapat lebih cepat pulang kerumah dibandingkan menghabiskan waktu yang lebih lama di rumah sakit karena khawatir dapat terpapar atau terinfeksi virus.

"Metode ERACS ini lebih unggul dikarenakan proses recovery yang lebih cepat, painless atau rasa nyeri yang sangat sedikit, mobilisasi pasien lebih cepat dan lebih baik, pasien dapat lebih cepat pulang dan berkumpul dengan keluarga," kata dr. Ida Bagus Gita Dharwa Wibawa, SpAn Siloam Hospital Ambon secara daring, Jumat 14 Januari 2022.

Perbedaan antara metode ERACS dan metode konvensional itu sendiri bisa ditemukan sejak proses persiapan operasi persalinan. Di mana pada metode konvensional pasien diharuskan untuk puasa makan delapan jam sebelum operasi, sedangkan metode ERACS pasien masih bisa makan dengan bebas delapan jam sebelum operasi.

"Enam jam sebelum operasi masih dapat mengonsumsi makanan yang ringan, bahkan dua jam sebelum operasi pasien diarahkan untuk mengonsumsi cairan berkalori, seperti air gula dengan harapan sang pasien memiliki energi optimal dan mengurangi rasa stress pada pasien. Hal ini bertujuan untuk membantu proses pemulihan pasien pascaoperasi nanti," ujar Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Maluku, dr. Markus Daniel Taliak, SpOG.

Sedangkan perbedaan signifikan antara metode ERACS dan konvensional ada pada teknik operasi. Metode ERACS ini tidak mengeluarkan rahim dari rongga perut dalam proses operasinya, sehingga tidak mengakibatkan penarikan pada saraf-saraf yang dapat menyebabkan rasa mual setelah operasi. 

Pada teknik ERACS juga dokter menghindari proses pencucian rahim. Sedangkan dari teknik pembiusan sendiri dengan memberikan pembiusan seminimal mungkin untuk memberikan rasa nyaman pada pasien.

Tujuan akhir dari proses penyembuhan ERACS ini adalah delapan jam setelah operasi pasien sudah dapat bergerak, dan kurang dari 24 jam pasien sudah dapat berjalan dan keesokan harinya sudah dapat segera kembali ke rumah. 

Sementara, dr. Cok Istri Arintha Devi, SpAn, salah satu tim dokter Anastesi di Siloam Hospitals Ambon membagikan pengalamannya sebagai pasien pertama yang melahirkan di Siloam Ambon dengan metode ERACS dimana perbedaannya cukup besar dibandingkan proses kelahiran pertamanya dengan metode caesar konvensional, dimana beliau merasakan proses melahirkan yang jauh lebih nyaman dan lebih relax dibandingkan sebelumnya. 

Dr. Coki, sapaan karibnya, juga menegaskan jika selama ini di Indonesia kebanyakan para ibu hamil berpendapat bahwa dengan melahirkan normal, rasa sakit yang dialami hanya pada saat melahirkan saja. 

Sedangkan pada operasi caesar pada umumnya sang pasien tidak merasakan sakit pada waktu operasi tetapi pascaoperasi akan merasa sangat tidak nyaman, nyeri, dan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika efek pembiusannya selesai. Dengan pengembangan metode ERACS ini diharapkan dapat mengubah stigma masyarakat mengenai sakitnya melahirkan dengan caesar. 

"Keberhasilan suatu proses terkhusunya proses melahirkan dengan metode ERACS ini adalah hasil kerjasama semua tim dokter yang menangani baik dari tim Obsgyn, Anastesi dan juga tim dokter Anak," ujarnya. 

Pasien juga diharapkan dapat ikut bekerja sama dengan mengikuti anjuran dan arahan dokter, tim bidan dan perawat ruangan yang akan selalu siap membantu dan mengarahkan pasien agar proses pemulihannya lebih cepat. Karena cepatnya proses pemulihan sang pasien kembali pada seberapa besar kemauan pasien itu sendiri. 
(REN)