FITNESS & HEALTH

Gejala Kekurangan Zat Besi pada Anak serta Cara Mengatasinya

Raka Lestari
Kamis 01 April 2021 / 09:08
Jakarta: Zat besi memiliki peran yang penting untuk proses pertumbuhan dan perkembangan kognitif pada anak. Namun sayangnya, angka kecukupan zat besi pada anak di Indonesia masih tergolong rendah. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu pemenuhan zat besi pada anak.

“Peran zat besi salah satunya dapat membentuk selaput saraf yang akan membantu proses penerimaan informasi ke otak anak, sehingga informasi dapat diserap dengan efisien,” ujar Prof. DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc, Pakar Gizi Medik dalam Webinar Festival Soya Generasi Maju.

Menurutnya, zat besi yang cukup juga bisa meningkatkan proses belajar anak. Zat besi yang ada di dalam sel darah merah juga akan berperan membawa oksigen ke sel-sel tubuh agar bisa berfungsi optimal.

"Sehingga mendukung proses tumbuh kembang anak dan anak bisa aktif bereksplorasi dan siap belajar,” ujar Prof. Tati.

Berikut ini adalah gejala kekurangan zat besi pada anak, menurut Prof. Tati:
 

Gejala ringan – sedang:


- Mudah lelah
- Gangguan kognitif
- Tidak bertenaga
 

Gejala berat – fatal:


- Tidak nafsu makan
- Mengalami PICA atau gangguan makan seperti mengunyah es batu
- Anemia defisiensi zat besi

“Dampak dari defisiensi zat besi pada anak secara jangka panjang di antaraanya adalah prestasi akademik anak akan rendah, gangguan permanen pada sistem motorik dan sensorik, sistem kekebalan tubuh yang menurun sehingga anak mudah terserang penyakit, dan pertumbuhan fisik akan terhambat,” ujar Prof. Tati.

Untuk mengatasinya, Prof. Tati menyarankan agar orang tua bisa mengetahui angka kecukupan zat besi untuk anak. Berdasarkan rekomendasi Kemenkes, untuk anak usia 1 – 3 tahun adalah 7mg/hari. Sedangkan anak usia 3 – 5 tahun adalah 10 mg/hari.

“Kemudian, orang tua juga bisa memilih bahan makanan yang kaya akan zat besi. Ada dua kelompok bahan makanan yang mengandung zat besi, yaitu heme dan non-heme. Heme artinya zat besi pada makanan lebih mudah diserap di saluran cerna. Sedangkan non-heme artinya kurang mudah diserap di saluran cerna,” jelas Prof. Tati.

Beberapa makanan yang termasuk heme adalah daging, hati, ikan, dan seafood. Sedangkan yang non-heme adalah kacang merah, bayam, nasi putih, kacang-kacangan, sayuran hijau, tomat, kentang, serta susu yang difortifikasi.
(FIR)