FEATURE

Berbagi Ke'Bike'an untuk Pejuang Jalanan dari Relawan di Sekolah Alam Bogor

Raka Lestari
Kamis 18 Februari 2021 / 22:01
Jakarta: Para relawan dari sekolah alam Bogor melakukan gowes sejauh 400 km untuk berbagi kepada pejuang jalanan yang ada di Bogor.

Mereka membagikan 2000 vitamin kepada para pejuang jalanan seperti pedagang asongan, sopir angkot, ojek online, penyapu jalanan dan orang lainnya yang berada di jalan mereka temui.

Arief Rahman, salah satu relawan 'Kebikean' Sekolah Alam Bogor menceritakan bahwa perjalanannya tersebut dibagi menjadi empat etape. “Jadi per hari 100 km, sambil mendatangi jaringan sekolah alam di kota-kota yang kita datangi juga. Sambil berbagi di sepanjang perjalanan,” tuturnya.

“Kita atur jadi 4 hari perjalanan, 400 km itu sehari sekitar 100 km-an ditempuh 4 hari sambil berhenti di beberapa titik dan membagikan suplemen yang kita bawa di sepeda,” ujar Arief. 

Ia juga menjelaskan bahwa suplemen-suplemen yang ia bagikan tersebut berasal dari para donatur yang ia galang dari beberapa platform berbagi, seperti BenihBaik.com.

Dan memang, gerakan berbagi yang ia lakukan ini merupakan rangkaian aksi kebaikan yang tidak hanya bersepeda saja tetapi juga berkampanye tentang imunitas di masa pandemi untuk orang-orang terdampak. 



(Para relawan dari sekolah alam Bogor melakukan gowes sejauh 400 km untuk berbagi kepada pejuang jalanan yang ada di Bogor. Video: Dok. Instagram Sekolah Alam Bogor - More Than a School, It's a Community/@salambogor)


“Jadi sebenarnya target itu memberikan 2 ribu paket suplemen, tetapi Alhamdulillah dalam waktu 4 hari saja sudah terkumpul 200 paket,” terang Arief.

“Walaupun baru terkumpul 10 persen dari target kita, tetap kita bagikan sebanyak 200 suplemen itu,” ujar Arief. Dalam melakukan aksi kebaikannya tersebut, Arief memiliki tim yang terdiri dari 6 orang pesepeda dan 2 orang support. 

“Dan dari 6 orang ini, karena kita sekolah maka ada 3 orang yang masih muda. 2 orang usia SMP dan 1 orang usia SMA. Sedangkan 3 pesepeda lainnya adalah guru di sekolah alam.”

Selama melakukan aksinya tersebut, Arief menceritakan bahwa tidak ada tantangan yang berarti meskipun dalam cuaca yang tidak menentu seperti sekarang. 

“Kita memiilih jalur-jalur yang memang sudah kita survei. Jalurnya juga disesuaikan dengan tiga orang siswa kita ini. Kalau untuk masalah hujan, kita masih bisa pakai jas hujan. Kita mengkhawatikan medan-medan yang ekstrem saja,” ujar Arief.

“Dari berbagai macam profesi yang kita temui, mulai dari ojek online, pengamen, dan pekerja kebersihan, kami terharu mengenai cerita-cerita dari pekerja kebersihan ini. Mereka itu banyak yang merasa takut pada sampah-sampah yang dikhawatirkan dari orang-orang yang terpapar virus,” ujar Arief.

Meskipun takut, Arief bercerita bahwa para pekerja kebersihan tersebut harus mengalahkan rasa takut mereka agar pekerjaan mereka selesai.

“Itu membuat kita terharu, mereka punya jasa yang luar biasa tetapi memang ada risiko-risiko yang mereka harus hadapi,” tambahnya.

“Selama melakukan kegiatan berbagi tersebut, kami juga tidak lupa melakukan deteksi status dengan melakukan swab antigen terlebih dahulu dan melakukan protokol kesehatan. Dan ke depannya, mungkin nanti kita juga akn melakukan sharing session untuk pencegahan dan memutus mata rantai covid-19 ini,” tutup Arief.

(TIN)