FEATURE

Kisah Fatma Janna, Jadi Backend Engineer dan Taklukan Bidang Teknologi

Yatin Suleha
Senin 08 Maret 2021 / 14:24
Jakarta: Mendengar kata teknologi mungkin zaman dahulu mustahil bisa ditaklukan oleh perempuan. Perempuan dengan kisah lampau dikotakan menjadi lemah dan lembut dan jauh dari kata tersebut. Namun, perkembangan dan era berubah. Saat ini perempuan juga sudah bisa menjangkau berbagai bidang termasuk teknologi. 

Ini juga termasuk semangat yang terus dikobarkan para perempuan. Dan di Hari Perempuan Internasional yang identik dengan peringatan perjuangan perempuan yang menuntut kesetaraan gender dan pencapaian perempuan, terdapat kisah perempuan yang merupakan lulusan Bangkit 2020, berhasil meraih mimpi bekerja di bidang teknologi. Ia adalah Fatma Janna perempuan kelahiran Serang 29 tahun. 

Ia adalah seorang lulusan Master of Petroleum Engineering, University of New South Wales di Sydney, dan ini tak menghalanginya untuk belajar dunia yang ia cintai yaitu teknologi. Ia memutuskan beralih ke bidang yang berbeda dari yang ia pelajari di bangku kuliah karena melihat besarnya peluang untuk berkembang. 

Akhir April 2019 ia memutuskan bekerja sebagai software engineer di Alterra sebuah layanan tagihan dan pembayaran digital. Keinginan perempuan berparas manis untuk belajar machine learning dan artificial intelligence ini berangkat dari keinginannya untuk mengetahui dan memahami pengaplikasian kedua teknologi ini. 

Hingga akhirnya ia mendapat informasi dan memutuskan untuk mendaftar program Bangkit angkatan 2020. Dari hampir 2.500 pelamar, terpilih 300 peserta berkualitas dan bermotivasi tinggi dari seluruh Indonesia yang diundang untuk bergabung dengan Bangkit, salah satunya adalah Fatma. 

Setelah bergabung dengan Bangkit ia pun mengetahui bahwa machine learning dan artificial intelligence sudah sangat banyak digunakan di berbagai sektor dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan dan banyak lainnya. 

Bangkit juga menjadi wadah untuk meningkatkan soft skills. Fatma menyebutkan salah satu pelajaran yang paling menarik baginya adalah rapid learning, yaitu metode agar bisa belajar dengan cepat, efisien, dan optimal. 


HPI
(Fatma dan timnya dalam program Bangkit membuat Garbage Image Classification, sebuah proyek yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia. Foto: Dok. Bangkit/Image Dynamics)
 

Pembelajaran berkesan dalam “I am Remarkable”


Selain itu sebagai peserta perempuan, baginya pengalaman yang paling berkesan adalah pembelajaran “I am Remarkable”. Ia menyadari bahwa di luar sana kendala yang sering dialami perempuan adalah kepercayaan diri dan keinginan untuk menunjukkan potensi aslinya. 

“Dari I am Remarkable, saya belajar bahwa sangat penting bagi kita sebagai perempuan untuk memiliki kepercayaan diri dan menyadari potensi dan kemampuan yang dimiliki. Saya belajar bahwa perempuan, dan masing-masing dari kita juga punya banyak potensi yang bisa digali dan disyukuri," katanya.

"Selanjutnya tinggal bagaimana kita merubah pola pikir dan cara pandang terhadap diri kita sendiri, untuk lebih menghargai diri dan memberikan peluang untuk kita menjadi lebih berani, misal dalam hal berpendapat, berargumentasi, diskusi dan juga berkontribusi dan kreasi,” papar Fatma.

Fatma juga merupakan salah satu peserta pada tim dengan proyek terbaik di Bangkit. Fatma dan timnya membuat Garbage Image Classification, sebuah proyek yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia.

“Setelah menjadi peserta program Bangkit, saya mendapatkan hal-hal yang jauh lebih baik dan bermanfaat dari apa yang saya harapkan. Karena tidak hanya belajar tentang machine learning, saya juga belajar banyak soft skills seperti keahlian komunikasi, kolaborasi, presentasi, hingga time management."

"Pelajaran soft skills ini menginspirasi saya untuk bekerja lebih baik ketika di Alterra, untuk berkontribusi lebih baik dengan kolaborasi dan time management yang lebih baik. Terbukti, di akhir semester 2 tahun 2020 di Alterra, saya mendapatkan gelar 'runner' berdasarkan performa kerja yang dinilai di atas rata-rata, sehingga bisa mendapatkan reward atau bonus dari kantor dan juga kenaikan gaji," kata Fatma.

"Saya terinspirasi untuk bisa lebih banyak berkarya dan berkontribusi dalam pengembangan ekosistem teknologi di Indonesia hingga akhirnya awal Maret lalu saya bekerja sebagai backend engineer di Quinyx perusahaan yang berfokus pada sistem manajemen tenaga kerja berbasis AI,” ungkap Fatma. 

Fatma berpesan bagi perempuan yang memiliki ketertarikan di bidang teknologi, baik itu software engineering, machine learning, data science, ataupun lainnya. Ia menyarankan untuk segera memulai dan mencoba mengeksplorasi bidang ini. 

“Bukan karena kita perempuan jadi merasa kurang mampu dan minder, tetapi justru karena kita perempuan, kita perlu tunjukkan bahwa kita juga mampu untuk bisa belajar dan terus berkembang menjadi lebih baik," akunya semangat.

"Industri teknologi juga membutuhkan banyak women engineers/specialists, karena kita juga memiliki peranan yang tidak kalah penting. Hal ini bisa dimulai dari belajar otodidak secara online, mengikuti coding bootcamp atau webinar, hingga bergabung dengan komunitas."

"Jika ada kesempatan, wajib untuk daftar program Bangkit, karena ia merupakan hal yang sangat berharga dan cukup langka untuk bisa mendapatkan kesempatan menjadi partisipan Bangkit,” pungkas Fatma.
(TIN)