FEATURE

Indonesia Darurat Sampah Plastik, Apa Solusinya?

Rendy Renuki H
Selasa 14 Desember 2021 / 12:21
Jakarta: Masalah sampah plastik hingga saat ini masih menjadi satu persoalan yang sulit ditangani. Bagaimana tidak, masyarakat hingga korporasi masih mengandalkan plastik sebagai kemasan maupun pembungkus kebutuhan belanja.

Mereka seolah sudah ketergantungan pada plastik, sehingga sulit untuk beralih pada kemasan yang lebih ramah lingkungan. Seperti yang kita ketahui, plastik tergolong sampah yang sulit terurai dan membawa ancaman bagi lingkungan dan kehidupan. 

Setidaknya, dibutuhkan waktu selama 500 tahun hingga 1.000 tahun untuk terurai. Untuk kesehatan sendiri, dari bahan beracun yang terkandung di dalamnya, jika masuk ke dalam tubuh dapat memicu masalah kesehatan seperti kanker, endodermis, kerusakan saraf, disrupsi endokrin, kerusakan sistem imun dan masih banyak lagi.

Berdasarkan data Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menyatakan jika setiap tahun ada 8 juta ton sampah plastik se-Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dari jumlah ini, sebanyak 3 juta ton yang diolah dan 5 ton tidak terkelola.

Sementara dari catatan The National Plastic Action Partnership (NPAP) menyebut, sekitar 4,8 juta ton per tahun sampah plastik di Indonesia tidak dikelola dengan baik seperti dibakar di ruang terbuka (48 persen), tidak dikelola layak di tempat pembuangan sampah resmi (13%) dan sisanya mencemari saluran air dan laut (9 persen).

Melihat jumlah sampah plastik ini, tampaknya semua masyarakat dari berbagai lapisan selayaknya turut andil dalam pengurangan sampah plastik dengan tidak lagi berperan sebagai konsumen plastik dan beralih pada kemasan yang ramah lingkungan. Sebagai pengusaha yang konsen pada kemasan ramah lingkungan, Dino Johari, founder Custombox.id, mengatakan jika pengusaha di sini juga sepantasnya memiliki kesadaran lebih pada sampah plastik.


Dino Johari

"Produk mereka dipakai orang banyak, mereka memberikan contoh mulai dari produk yang mereka pakai atau packaging yang mereka pakai itu semua mencerminkan brand yang mereka bawa. Dengan berkembangnya pasar online, sebetulnya kita melihat lebih banyak orang aware dengan ini dan mengubah bukan hanya packaging mereka tetapi juga bahan-bahan yang dipakai dalam produk mereka menjadi bahan yang lebih eco friendly," tuturnya.

Jika disadari, alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan sebenarnya cukup banyak dari kemasan itu sendiri hingga pelindung seperti bubble wrapping. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan Custombox.id, mereka memakai pelindung barang berbahan kertas yang kegunaannya sama dengan bubble wrapping tanpa limbah plastik.

"Sebetulnya kembali lagi dari kebutuhannya. Bahan alternatif itu ada kertas, ada juga yang sedang di develop itu dari mycelium, itu bahannya dapat dari jamur, ada juga bahan natural lainnya seperti yang banyak digunakan sebagai alternatif kantong plastik itu cassava atau singkong," imbuh Dino.

Dino Johari menyadari jika permintaan plastik sangat tinggi karena perusahaan maupun pebisnis lebih mementingkan cost daripada lingkungan hidup. Sehingga, di sini perusahaan dan pebisnis diharapkan untuk mulai beralih dari kemasan plastik ke kemasan ramah lingkungan.

"Jika mikirnya 'ah, hanya satu kantong plastik tidak akan mengubah." Kalau jutaan orang di dunia memiliki mindset ini, setiap harinya kita membuang berapa banyak sampah plastik?," tutup Dino Johari.

Custombox.id melakukan produksi dari daur ulang hingga menjadi kemasan siap pakai di pabrik sendiri. Desain kekinian yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan ditawarkan untuk memotivasi sekaligus mendorong kemauan para pebisnis agar berkenan beralih ke kemasan ramah lingkungan.

(REN)