FEATURE

Joke Boon, Ketika Penderita Anosmia Menulis Buku Masak

A. Firdaus
Senin 19 Oktober 2020 / 19:36
Anosmia atau hilangnya indra penciuman merupakan kondisi yang terjadi hanya sekitar 5% dari poplulasi di dunia. Belakangan, penyakit ini jadi perbincangan hangat lantaran menjadi salah satu gejala covid-19.

Banyak yang mengabarkan pasien covid-19 berisiko kehilangan indra penciuman mereka dalam jangka waktu yang panjang. Yang berarti bahwa, mereka pulih dari gejala lain, tapi dunia mereka terasa hampa tanpa rasa.

Lalu apa yang terjadi jika secara tiba-tiba kamu kehilangan indra penciuman atau perasa? Penulis buku masak asal Belanda, Joke Boon coba menceritakan pengalamannya mengalami anosmia sejak kecil, hingga sekarang ini.

Boon kehilangan indra penciumannya sejak berusia empat tahun. Kemungkinan waktu itu penyebabnya karena ia mengalami flu yang parah dan amandelnya harus diangkat.

Meski lidahnya masih mempertahankan persepsi rasanya, kurangnya penciuman membuatnya hanya bisa secara samar-samar membedakan lima dasar rasa. Di antaranya, manis, asin, pahit, asam, umami, dan lemak.

Dokter mengatakan kalau dia telah kehilangan sekitar 94% dari persepsi pengecapannya. Kendati begitu, kondisi tersebut tak mengahalangi Boon menulis lima buku masak lho.

Pertanyaan pun timbul, lalu bagaimana seorang tanpa indra penciuman seperti Boon merasakan makanan? Bagi Boon, ini terkait otaknya dan dengan menggunakan saraf wajah.
 

Menggunakan saraf trigeminal


Mulai dari telinga dan bercabang menjadi tiga untai menuju mata, hidung, dan rahang, saraf trigeminal memiliki peran penting atas persepsi sensorik di wajah. Tugasnya melindungi kita dari bahaya, dirangsang oleh, misalnya asap dan amonia. Tapi bahan makanan tertentu juga bisa memicu hal itu.

"Kamu tahu rasanya kalau kamu makan terlalu banyak wasabi sekaligus? Aku sering menggunakan saraf ini untuk 'mencicipi' makananku. Aku bermain dengannya. Aku juga merasakan jahe, mint, mustard, dan merica dengan cara itu," ujar Boon kepada CNN.

"Lada dan jahe terasa hangat. Sedangkan mint dan lobak menghadirkan sensasi dingin," sambungnya.

Tak hanya itu, Boon juga memerhatikan penampilan dari makanan. Baginya warna makanan sangat penting.

“Saya tidak suka makanan putih karena bagi saya putih tidak ada rasa. Tekstur dan suara makanan memiliki peran besar juga. Kacang kenari mengeluarkan suara yang berbeda dari kemiri," terang Boon.
 

Suka masak


Hal ini berkaitan dengan jumlah lemak. Kemiri baginya memberikan retakan yang keras. Berbanding terbalik dengan buah kenari yang lebih lembut.

"Saat kamu mendengarkan, kamu juga mendengarkan perbedaan antara wortel dan apel," tukasnya.

Terlepas dari kondisinya, Boon selalu suka masak. Baginya, makanan sangat penting selama ia masih anak-anak.

"Ibuku mampu bertahan dari Dutch Hunger Winter (kelaparan tahun 1944-1945). Jadi di keluarga saya, tak lepas dengan sejarah makanan," sambung Boon.

Kendati dirinya tak merasakan apa-apa, Boon ingin berpartisipasi. Ia pun mulai bereksperimen saat masih menjadi mahasiswa dengan menulis buku resep.

Tak mengherankan jika dia lebih menyukai masakan yang menggunakan rempah-rempah atau perasa yang kuat. Seperti masakan Meksiko dan India yang menjadi favoritnya.

"Saya sangat menyukai lapisan bumbu yang orang-orang Meksiko atau India gunakan di piring mereka dan jenis paprika yang berbeda. Aku juga menyukai masakan Skandinavia di mana mereka menggunakan banyak bawang, adas, mustard, bit dan lobak," terang Boon.
 

Hidup dengan anosmia


Di luar dapur, kondisi bagi penderita anosmia menyedihkan. Bisa memengaruhi kepercayaan diri si penderita.

"Aku selalu takut kalau aku bau. Dan aku harus mengembangkan cara lain untuk menilai orang yang kutemui, karena kamu biasanya menggunakan penciuman untuk menentukan (dalam sekejap) apakah kamu menyukai orang atau tidak," terang Boon.

Dia menerima banyak pesan dari sesama penderita yang berjuang dengan kondisi tersebut. Kadang-kadang ada yang ingin bunuh diri dan memberi tahunya, bahwa tidak ada lagi yang benar di dunia ini.

"Kamu menjadi terasing dari dunia saat kamu kehilangan kemampuan untuk mencium. Tiba-tiba, dunia yang kamu kenal menjadi tidak masuk akal lagi karena kamu tidak dapat lagi melihatnya," terang Boon.

Bagi Boon, mereka yang tidak mengalami anosmia dianggap beruntung. Sebab Boon tidak bisa lagi mencium, katakanlah, bau yang kurang sedap.

"Mereka juga ada yang mengiburku dengan mengatakan bahwa tuli atau kebutaan itu lebih buruk. Tapi ini bukan soal pertarungan indra. Manusia memiliki lima di antaranya karena suatu alasan. Dan, jika kamu tidak bisa mencium, kamu juga kehilangan rasa. Jadi benar-benar kehilangan dua di antaranya," jelas Boon.
 

Menyusun resep


Untuk membantu sesama penderita, Boon mulai menyusun resepnya pada 2010.

"Tampaknya ada metode yang mendasari masakanku, terutama menggunakan warna, tekstur, suhu, suara dan bumbu yang bisa kamu rasakan - kesemutan," katanya.

Masakannya sangat beraroma. Sekarang dia telah menulis lima buku. Ada satu bahan yang paling disukai Boon.

"Saya suka kacang! Bagian dalamnya creamy dan ada banyak variasi. Kacang cokelat dengan bacon, bawang bombay, piccalilli, dan kentang rebus. Jika kamu menyajikan hidangan itu untukku, aku akan senang," jelas Boon.

Ketika berbicara tentang minuman, kamu akan mengira alkohol akan ideal untuk penderita anosmia, tidak hanya kamu bisa merasakannya di mulut dan tenggorokan, tetapi juga memengaruhi seluruh tubuh.

Dan, meskipun Boon secara pribadi tidak banyak minum, dia hanya sebatas suka.

"Sampanye adalah favoritku karena buihnya, terutama yang berwarna merah muda karena kelihatannya bagus. Air bersoda adalah favorit lainnya, karena gelembungnya," terang Boon.
 

Haram buat Boon

Kendati suka memasak dan memberikan resep makanan, ada hal yang tidak bisa ia makan.

"Makanan adalah emosi, jadi aku tidak suka daging dan puding hitam, karena aku pernah menjadi perawat. Aku enggak begitu suka daging, aku sedih saat melihat hewan ternak disembelih," sambung Boon.

Siput, jika tidak dimasak dengan benar bisa menjadi bukan makanan favoritnya.

Pesan Boon bagi mereka yang juga kehilangan indra penciuman, fokuslah pada sitmulasi saraf trigeminal. Rasakan dengan otak dan intelekmu. Masak makananmu sendiri, jadi kamu bisa memutuskan apa saja bahan-bahannya.

"Tidak bisa mencium bau atau aroma itu tidak menyenangkan. Tapi kamu bisa menjalani kehidupan yang menyenangkan jika kamu tahu caranya," tutup Boon.
(FIR)