FEATURE

Shoes for Flores, Menjaga Semangat Anak-anak di Pelosok Flores untuk Tetap Bersekolah

Kumara Anggita
Kamis 25 Februari 2021 / 16:21
Jakarta: Masih banyak anak di Indonesia yang bersekolah dengan keadaan yang memprihatinkan. Hal ini mendorong beberapa dari kita untuk membantu memberi sedikit kenyamanan pada mereka.

Seorang pemuda di Flores, NTT misalnya. Valentinus Lius telah menggagas gerakan berbagi 5.000 sepatu untuk anak usia sekolah dasar dan guru honorer. Gerakan ini dinamakan "Shoes for Flores" yang dibuat untuk memberi semangat belajar dan memfasilitasi anak pelosok.

Valentinus Lius yang merupakan Penggagas Gerakan ‘Shoes for Flores & Sffive’ bercerita bahwa gerakan ini sudah ada sejak tahun 2014. Ia tidak menyangka bahwa gerakan ini masih bisa berlangsung hingga saat ini.

“Sebenarnya gerakan ini accidential ya bukan direncanakan, tiba-tiba ada ada sekolah yang anak-anaknya pergi tanpa sepatu, tanpa seragam. Akhirnya, tersebar cerita itu. Lalu ada beberapa orang ingin membantu kemudian akhirnya saya pikir saya mau deh untuk jadi perantara perpanjangan tangan,” ujarnya dalam Newsline Metro TV.


Foto: Shoes for Flores

Untuk melakukan misi ini, Valentinus tahu bahwa ia tidak sendiri. Valentinus meminta kerabatnya untuk ikut bergabung dalam gerakan ini.

“Akhirnya terpikir ini tidak bisa dilakukan sendirian. Saya minta beberapa teman untuk ikut bergabung dan itu pun terjadi untuk yang pertama. Dan itu tidak direncanakan akan dilakukan terus-menerus, yang kedua, ketiga, keempat dan selanjutnya,” jelas Valentinus.

“Saya hanya pikir waktu itu program ini hanya terjadi satu kali, namun ternyata responsnya baik. Banyak yang ingin terlibat dan muncul sekolah-sekolah baru yang meminta bantuan dan akhirnya kita lanjut sampai sekarang,” lanjutnya.
 

Keadaan Sekolah di Flores


Tentunya, ide ini bisa muncul karena melihat kondisi sekolah di Flores membutuhkan pertolongan. Menurutnya, di sana banyak anak yang ingin sekolah dan berinisiatif sendiri, namun kondisi tidak mendukung. Sekolah darurat pun banyak tersebar di pelosok Flores.

“Kalau di Flores memang rata-rata situasi darurat seperti ini terjadi pada sekolah-sekolah yang ada di pedalaman dan luar jangkauan. Biasanya desa yang jauh dari kota dan sulit diakses kendaraan. Jadi mereka rata-rata punya inisiatif sendiri untuk sekolah dan akhirnya kita bikin sekolah darurat,” paparnya.

Valentinus dan rekan-rekan dalam gerakan pun menolong untuk memberikan hal-hal yang dibutuhkan. Seperti seragam, sepatu, dan alat tulis.

“Berangkat dari keterbatasan, akhirnya yang penting sekolah saja, yang penting bisa membaca, bisa menulis. Seragam, sepatu, dan alat-alat tulis akhirnya serba terbatas,” ujar Valentinus.


Foto: Shoes for Flores

"Dengan ini, diharapkan anak-anak tetap termotivasi untuk belajar. Dukungan moral itu lebih kuat dan itu kami sadari bahwa sepatu, seragam, dan alat tulis ini sebagai motivasi dia semangat belajar,” ungkapnya.

Selain pelajar, guru di sini pun juga mendapatkan perhatian. Valentinus mengungkapkan bahwa para guru juga mendapatkan sepatu dan tas yang dibutuhkan.

“Rata-rata di NTT dan Flores ini guru honorer. Gajinya 250, 400, 700 ribu rupiah setiap kali kita survei kegiatan. Kita kalau kegiatan tidak hanya kasih ke anak-anak. Kita kasi bonus untuk honorer berupa tas atau sepatu,” jelasnya.

Sekarang gerakan ini masih berlangsung. Valentinus mengungkapkan bahwa relawan inti di Maumere itu hampir 20 orang. Tak hanya itu, Shoes for Flores & Sffive juga punya relawan yang tersebar di tiap kabupaten yang sifatnya kolaboratif.

“Kita juga ada long distance volunteer yaitu teman-teman muda yang ada di Indonesia, kota-kota besar yang biasanya menceritakan situasi yang ada di Flores. Mereka biasanya yang mencari donasi,” tambahnya.

Valentinus berharap gerakan ini bisa terus memotivasi anak-anak dan mendorong anak muda untuk memiliki semangat kepedulian sosial. Semoga anak-anak di Flores bisa merasakan pendidikan yang lebih baik setelah ini.
(FIR)