FAMILY

Alasan Orang Bisa Terjerat Radikalisme

Kumara Anggita
Minggu 04 April 2021 / 08:00
Jakarta: Baku tembak antara polisi dengan terduga teroris di Mabes Polri, Jakarta Selatan, 31 Maret lalu telah menunjukkan bahwa radikalisme bisa terjadi di mana saja. 

Dalam surat wasiat yang ditemukan di rumah ZA di Ciracas, Jakarta Timur, ia sempat menyampaikan agar keluarganya berhenti bekerja menjadi dawis yang membantu kepentingan pemerintah 'thagut' dan tidak mengikuti kegiatan pemilu.  
 

Apa itu radikalisme?


Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, dari Sahabat Kariib radikalisme adalah paham atau kepercayaan terhadap sistem yang menentang otoritas. Menurutnya ada beberapa hal yang membuat orang punya dan mengembangkan konsep paham radikalisme seperti:
 

1. Merasa mendapat perlakuan tidak adil


“Orang-orang tersebut memiliki persepsi bahwa mereka diperlakukan tidak adil (oleh masyarakat, pemerintah, politik, sosial budaya, agama, ekonomi, dan lain-lain) sehingga timbul keinginan untuk membalas dendam terhadap otoritas tersebut," papar Yulius pada Medcom.id/gaya.

"Karena mereka menganggap kebijakan yang ada sekarang ini tidak adil, mereka punya set of beliefs sendiri, kepercayaan sendiri bahwa kondisi ini seharusnya begini,” terang Yulius.
 

2. Identitas dan sense of belonging


Bertemu dan bergabung dengan kelompok dengan pemikiran yang sama akan membuat seseorang semakin yakin dengan apa yang seseorang jalani. Seseorang akan merasa mendapat dukungan.

“Orang-orang dengan pemikiran yang sama nih dari nomor satu ini akan cenderung bergabung dalam suatu grup atau kelompok radikal yang sama. Tujuannya adalah karena berdasarkan kesamaan pandangan, visi, misi  dan tujuan,” ungkapnya. 

“Ketika mereka punya paham itu seorang diri mereka tak akan bisa berbuat apa-apa untuk melawan otoritas yang lebih besar, makanya mereka punya kebutuhan untuk melakukan action, salah satunya dengan bergabung di kelompok dengan orang-orang yang punya pemikiran serupa."

"Di kelompok tersebut mereka juga merasa lebih diterima dan merasa nemiliki satu sama lain sehingga terjadilah kelompok radikal,” lanjutnya.


radikalisme
(Psikolog Yulius menjelaskan bahwa secara psikologis terutama di aliran psikoanalisa, orang-orang yang radikal biasanya di masa kecilnya memiliki trauma dengan orang tua. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)
 

5 tahap awal mula pikiran radikal muncul


Menurut Yulius, dari suatu kebijakan atau otoritas, ada konflik di pikiran mereka mulai dari:
 

Tidak puas terhadap otoritas yang ada


"Mereka akan berpikir ‘sepertinya kebijakan atau sistem ini enggak bener deh’. Mereka mulai ada rasa ketidakpuasan terhadap otoritas,” katanya. 
 

Merasa tidak diperlakukan dengan adil 


“Mereka juga akan berpikir ‘Kayaknya udah mulai enggak adil deh’. Mulailah terjadi pemikiran persepsi terhadap ketidakadilan,” jelasnya.
 

Menargetkan kelompok


Menargetkan kelompok yang mereka anggap membuat situasi menjadi sesuai dengan pikirannya. “Mereka akan berpikir tampaknya ada kesalahan dari suatu pihak yang menyebabkan sistem ini enggak adil buat kami’. Ini mereka mulai berpikir kalau misalnya sistem yang ada enggak adil, pasti ada orang di baliknya yang menentukan sistem ini dan mereka mulai menyalahkan pihak-pihak tersebut,” paparnya.
 

Tumbuhnya kebencian


Dan terakhir mereka akan menganggap kelompok tersebut sebagai sesuatu yang jahat. “Setelah meyakini bahwa ada satu pihak yang disalahkan, mulailah menumbuhkan kebencian terhadap pihak-pihak itu dan terjadilah tindak radikalisme ini,” katanya.
 

Faktor pendorong


Faktor yang mendorong seseorang bisa lebih radikal saat dewasa dibandingkan orang lain. Yulius menjelaskan bahwa secara psikologis terutama di aliran psikoanalisa, orang-orang ini biasanya di masa kecilnya memiliki trauma dengan orang tua. Mereka mungkin tidak puas, menghadapi kekerasan dalam rumah, menjadi korban perilaku abusive. 

“Orang tua ini kan dianggap sebagai pihak otoritas, sehingga mereka mulai menumbuhkan pemikiran dan menggeneralisasi bahwa pihak otoritas memang tak baik. Ini menimbulkan kebencian-kebencian terhadap orang tua sebagai pihak otoritas yang kemudian ketika mereka dewasa hal tersebut digeneralisasikan ke cakupan yang lebih luas,” paparnya. 

Selain itu, ia melanjutkan bahwa beberapa faktor lain juga berperan. Orang narsistik lebih mungkin menjadi radikal.  

“Adanya pola sikap yang menunjukkan ke arah narsisme.  Orang-orang ini punya keyakinan yang kuat akan pemikirannya sebagai pikiran yang paling benar, dan melawan pihak-pihak yang menentang pahamnya tersebut serta merendahkan pemikiran-pemikiran atau paham-paham lain yang tidak sesuai dengan paham yang dipercayainya,” pungkasnya.
(TIN)