FAMILY

Jangan Hakimi Anak-anak Indonesia yang Rendah Budaya Membacanya

K. Yudha Wirakusuma
Selasa 23 Februari 2021 / 11:32
Jakarta: Proses belajar adaptasi dan mengikuti setiap hal yang diajarkan orang-orang berada di dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama kali anak mendapatkan pendidikan. Termasuk mengajarkan anak dalam kebiasaan membaca buku.

Kebiasaan membaca buku membuat suatu waktu berinovasi, sehingga merangsang orang berproduksi barang dan jasa yang bermutu. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang hebat bila terbiasa memproduksi, bukan sekedar menjadi konsumen semata.

Kepala Perpustakaan, Muhammad Syarif Bando mengatakan literasi sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat. Literasi terbagi 4 tingkatan, yakni kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, memahami yang tersirat dari yang tersurat dan mengemukan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru. 

“Nah yang keempat inilah puncaknya yakni mampu menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Jadi literasi tidak lagi sekedar bisa membaca namun  memproduksi,” ujar Muhammad Syarif Bando, 22 Februari 2021.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo fokus RPJMN 2020-2024 yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).  Literasi menentukan kesejahteraan karena percaturan global sudah pada tingkat literasi. Maka Perpusnas sejak 2017 diusulkan menjadi priotitas nasional untuk transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. 

Hal ini guna membuktikan bahwa literasi itu bisa mengubah nasib orang menjadi sejahtera dan akhirnya di bawah Presiden Joko Widodo, program ini menjadi prioritas nomor satu. Saat ini literasi Tiongkok berada jauh di atas Indonesia, bahkan mereka memimpin dunia dalam percaturan kompetisi global. Sementara penduduk Indonesia banyak menjadi konsumen dan rendah memproduksi karena dampak dari rendahnya tingkat literasi. 

Maka dari itu, Perpusnas memberikan aksestabilitas digital untuk semua mahasiswa di seluruh nusantara di era study from home (SFH) ini. Diakui Perpusnas Indonesia saat ini menjadi perpustakaan terbaik ketiga di dunia pada top open access journal ilmiah dengan kurang lebih 4 milyar artikel. Selain mahasiswa, layanan tersebut juga diberikan kepada tenaga pendidik dan semua sekolah. 

“Karena pada akhirnya persaingan global dalam tatatan ekonomi dunia adalah siapa yang bisa  ciptakan produksi untuk konsumsi massal. Saat ini kita dipaksa hidup dengan teknologi yang bergerak sangat cepat,” urai dia.

Indonesia dengan 270 juta penduduk saat ini dan diprediksi 50 tahun ke depan penduduk Asia akan menjadi sebanyak 5 miliar, Eropa 800 juta, Amerika Utara 1-1,2 miliar. Ini artinya benua Asia akan menjadi pusat baru kehidupan manusia, dan jantungnya adalah Indonesia yang bakal menjadi tema sentral literasi dalam menciptakan barang dan jasa bermutu.
 
Namun sayangnya, berdasar standar Unesco setiap orang minimal membaca 3 buku baru setiap tahun. Kalau penduduk Indonesia 270 juta, maka membutuhkan 810 juta buku beredar di masyarakat setiap tahun. Namun total jumlah bahan bacaan hanya mencapai 22, 3 juta eksemplar dengan rasio nasional 0,0098 atau tidak mencapai 1 persen.

Sementara Eropa bisa mencapai 15-20 buku per tahun, Amerika Utara bisa 25 buku setahun.  Artinya Indonesia mengalami ketertinggalan jauh. Jadi jangan menghakimi anak-anak Indonesia di sisi hilir yang rendah budaya baca, tetapi ini dikarenakan tidak disiapkannya buku yang beredar di masyarakat. 

“Siapa yang bertanggung jawab memastikan adanya peredaran buku di masyarakat. Ini adalah tugas penyelenggara negara. Tapi penulis dan penerbit buku juga harus bisa menyesuaikan kebutuhan masyarakat di berbagai tempat yang tidak sama kebutuhannya,” jelas Bando. 

Untuk itu, pada tahun 2021 ini Perpusnas fokus membicarakan persoalan literasi di sisi hilir dan hulu. Sisi hilir hasil survei rendah budaya baca dan mengakibatkan rendah literasi. Akhirnya parameter dunia menilai daya saing global Indonesia dan income per kapitanya rendah.

Sementara sisi hulu, yakni peran eksekutif legislatif dan yudikatif serta komponen bangsa, bertugas mencerdaskan bangsa. Buku sudah jadi kebutuhan pokok yang ke-10 karena menjadi pemicu memenuhi kebutuhan pokok lainnya.  

Perpustakaan nasional di seluruh dunia dianggap sebagai sumber informasi. kita semua dibangun sebagai jantung pendidikan dan menjadi jembatan ilmu pengetahuan. Institusi ini dibangun 2014 

“Maka fungsi kami adalah bagaimana masyarakat mendapat informasi. Di 2021 ini kami menjadikan Perpusnas ini sebagai universitas zoom dengan berpelanggan 10.000 kuota orang setiap membuat acara dengan mengundang berbagai rektor, menteri, dan nara sumber lainnya. Sementara saya hanyalah pustakawan yang mensinergitas serta hadirkan orang-orang profesional,” ungkap Syarif.
 
Diakui tantangan utama Perpusnas saat ini adalah menyakinkan generasi milenial membutuhkan ilmu pengetahuan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang bermutu di masa mendatang. Generasi milenial tidak boleh menjadi generasi internetan yang hanya berselancar di gelombang, dengan penuh ketidakpastian dan pengetahuan yang sangat dangkal. 

“Milenial harus banyak membaca. Semua negara maju yang kita banggakan itu semuanya berproses yang berliku panjang yang dibangun oleh orang-orang berpengetahuan tingkat literasinya mumpuni dan bisa menatap masa depan yang terus berputar dengan cepat. Inilah perlunya transformasi perpustakaan berbasis inklusi, yakni versus eksklusif,” terangnya.

Untuk itu Syarif Bando bakal menyakinikan semua orang bahwa ilmu pengetahuan penting sekaligus memastikan semua jenis perpustakaan di seluruh Indonesia berfungsi dengan baik untuk bisa melayani masyarakat. Sehingga mampu mencerdaskan anak bangsa, sejahterakan mereka, serta menghantar mereka menjadi masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.
(YDH)