FAMILY

Bisa Menyebabkan Susah Hamil, Apa Itu Azoospermia?

Raka Lestari
Jumat 24 September 2021 / 10:12
Jakarta: Pada masa pandemi covid-19 seperti sekarang, banyak orang yang memang takut untuk bepergian keluar rumah. Salah satunya adalah pada pasien yang memang sedang melakukan pengobatan untuk infertilitas yang dialami pada pasangan.

“Masih belum bisa kita simpulkan, yang jelas pada saat pandemi covid-19 ini banyak pasangan-pasangan infertilitas cenderung menunda untuk hamil karena dia takut pergi ke rumah sakit,” kata Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MPH, Sp.OG-KFER, Dokter Spesialis Kebidanan & Kandungan di RS Pondok Indah IVF Centre, dalam acara RSPI Group Webinar pada Kamis, 23 September 2021.

Menunda kehamilan cukup membahayakan, terutama pada pasangan-pasangan yang sudah 35 tahun ke atas. Atau, pasangan-pasangan yang memiliki masalah dengan sperma. Sebab biasanya masalah pada sperma itu kalau berat dia akan sangat agresif. Semakin lama semakin turun, bahkan bisa menyebabkan azoospermia.

Azoospermia sendiri merupakan istilah medis untuk menyebutkan kondisi tidak ditemukannya sperma pada air mani saat seorang pria ejakulasi. Untuk mengatasinya, bisa dilakukan terapi sperma.

“Cara terapi sperma itu prinsipnya 3 bulan atau 72 hari karena satu siklus spermatogenesis atau pembentukan sperma itu adalah 72 hari. Jadi diobati, kalau kita mengobati kelainan sperma maka untuk melihat idealnya 3 bulan kemudian. Ketika batch sperma nya sudah ganti,” kata Prof. Iko.

Ketika sedang melakukan terapi untuk sperma, menurut Prof. Iko seorang pria masih boleh melakukan hubungan seksual. Sebab terapi ini tidak memengaruhi pengobatan dan juga kegiatan masturbasi tidak terkait dengan gangguan kesuburan.

Beberapa orang juga mengkhawatirkan adanya penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus yang bisa menyebabkan azoospermia.

“Diabetes mellitus umumnya bukan azoospermia, umumnya kaitannya dengan disfungsi ereksi. Sehingga si suami cenderung kesulitan untuk memberikan sperma pada saat hubungan seksual, atau pada saat inseminasi, atau pada saat bayi tabung,” tutup Prof. Iko.
(FIR)