FAMILY

Kesehatan Mental Jadi Prioritas untuk Para Ibu

Kumara Anggita
Jumat 25 Desember 2020 / 13:04
Jakarta: Selama pandemi covid-19 ini, banyak dari kita mengalami kelelahan secara mental. Dan ini terjadi juga pada para ibu.

Menurut Erika Kamaria Yamin, M.Psi., Psikolog., CHt, CPS selaku Psikolog dari @ideplus.id, kondisi ini terjadi karena lingkungan memiliki ekspektasi yang tinggi pada ibu. Kendati demikian, kondisi ini berlaku baik pada ibu rumah tangga maupun ibu pekerja.

“Kata-kata seperti ‘sudah kodratnya seorang ibu, seorang perempuan bisa melakukan segalanya mulai dari merawat anak, mengurus rumah tangga, memastikan sajian lezat bergizi terhidang di meja hingga turut membantu perekonomian keluarga. Kalau ada apa-apa dengan anak, pasti yang salah ibunya,” ungkap Erika dalam Rompi di Aplikasi Orami Parenting.
 
Perkataan negatif seperti alhasil menurut Erika, bisa membuat beberapa ibu jadi
merasa sedih dan kesal. Namun di sisi lain, ibu pun bisa menyalahkan dirinya sendiri.

“Ini dia tantangan yang sesungguhnya yaitu ekspektasi dari diri sendiri. Ketika masih single dan belum menikah, kita punya banyak waktu dan tenaga untuk melakukan segalanya dengan baik. Dengan sempurna. Ekspektasi itu terbawa hingga sudah menikah dan menjadi ibu. Ketika realita menunjukkan bahwa kita tidak lagi bisa mengerjakan segalanya dengan sempurna, biasanya muncul rasa kecewa,” paparnya.

Erika melanjutkan, emosi kurang nyaman seperti kecewa, sedih, marah hingga stres wajar dirasakan dan merupakan pengalaman hidup kita sebagai manusia. Namun kita perlu untuk mengurus emosi itu dengan cara yang benar.

Untuk itu, Erika menekankan bahwa menjaga kesehatan mental adalah hal yang perlu menjadi prioritas. Khususnya untuk para ibu yang dituntut banyak hal.

“Kondisi mental seorang ibu berpengaruh besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak, jangka panjang,” ujar Erika.

Ketika seorang ibu merasa tertekan, mereka jadi mudah marah lalu melampiaskannya dengan tidak sehat kepada anak. Misalnya jadi sering memarahi anak dengan suara kencang, atau memberikan hukuman fisik (mencubit, memukul, menjewer, dst) kepada anak, bahkan untuk kesalahan sederhana yang dilakukan anak.

Hal ini menurutnya akan memengaruhi konsep diri anak, bisa menyebabkan trauma pada anak, yang tentu bisa menimbulkan masalah di berbagai aspek, mulai dari prestasi akademis di sekolah sampai ke pergaulan anak. Jika tidak diatasi, masalah ini akan terus terulang menjadi lingkaran setan yang tiada habisnya.

Di samping itu, sehat mental juga penting bagi pribadi ibunya sendiri. Kondisi mental yang prima akan memberanikan ibu untuk mengambil keputusan yang bijak dan sehat.

"Tentunya hal ini akan meminimalisir kemungkinan terjadinya penyesalan di kemudian hari. Dengan demikian, ibu bisa merasa bahagia dan puas terhadap hidup yang dijalani,” tutupnya.
(FIR)