FAMILY

Mengenal Kehamilan Ektopik, Gejala dan Penanganannya

Raka Lestari
Selasa 06 Oktober 2020 / 17:34
Jakarta: Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi, menempel di luar rahim. Biasanya kehamilan ektopik terdeteksi pada usia kehamilan 6–8 minggu. Jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan kerusakan organ hingga kematian.

“Ketika kami, para dokter yakin dengan diagnosis kehamilan ektopik pada umumnya kami akan merekomendasikan baik melalui pengobatan atau pembedahan karena sangat berisiko jika dibiarkan. Dan, dapat menyebabkan pendarahan hingga kematian,” kata Mary Jacobson, MD, kepala direktur medis Alpha Medical.

Sangat penting untuk segera mencari pertolongan medis jika kamu curiga mengalami kehamilan ektopik. Berikut adalah tanda peringatan utama yang harus diperhatikan:

- Nyeri pada bagian tengah perut atau panggul

- Nyeri di punggung bawah

- Sakit bahu

- Perdarahan vagina yang tidak normal

- Pusing atau merasa lemas

- Nyeri ringan di satu sisi panggul


(Nyeri pada bagian tengah perut atau panggul adalah salah satu gejala kehamilan ektopik. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Pada kehamilan ektopik, sel telur tidak dapat berpindah ke rahim, oleh karena itu perlu bantuan medis untuk dikeluarkan. Untuk mengobatinya, bisa dilakukan pengobatan atau operasi tergantung situasinya. Jika kamu diberi obat, kemungkinan besar itu adalah metotreksat.

Dalam kasus kehamilan ektopik, metotreksat dapat mencegah pertumbuhan sel janin, dan menghentikan perkembangan janin. “Metotrekstat digunakan untuk wanita yang tidak mengalami perdarahan internal, tidak memiliki riwayat ginjal, hati, penyakit paru-paru aktif, tukak lambung, atau defisiensi imun dan harus bersedia serta mampu untuk mengikuti perawatan,” jelas Jacobson.

Pilihan alternatifnya adalah operasi laparoskopi. Pembedahan seringkali diperlukan jika usia kehamilan masih beberapa minggu karena dapat menyebabkan perdarahan hebat atau tuba falopi pecah. Setelah perawatan ini, kamu mungkin merasa lelah dan nyeri di perut.
(yyy)