FAMILY

Kanker pada Anak: Kenali Gejalanya dan Jangan Terlambat!

Mia Vale
Senin 20 September 2021 / 15:38
Jakarta: Kanker dapat menyerang anak-anak mulai dari usia bayi hingga usia 18 tahun. Dan dari keseluruhan penyakit kaker, jumlah kanker anak berkisar 3-15 persen. 

Bahkan, menurut situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kanker menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada anak di rentang usia 5-14 tahun. 

Mengapa? Karena, lebih dari 50 persen kasus kanker pada anak yang datang ke fasilitas kesehatan, sudah dalam keadaan stadium lanjut. Minimnya pengetahuan orang tua tentang kanker, menjadi salah satu penyebab kanker yang diderita anak-anak dalam kondisi stadium lanjut. 

Padahal apabila dapat terdeteksi secara dini, kanker pada anak dapat disembuhkan dengan pengobatan dan terapi yang baik. 

Kunci keberhasilan kanker pada anak terletak pada penemuan dini dari kasus kanker tersebut. Baik orang tua maupun petugas kesehatan diharapkan dapat mendiagnosa kanker pada stadium awal, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai tingkat fasilitas kesehatan rujukan. 

Apabila anak dicurigai terkena kanker, orang tua harus segera memeriksakannya ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya. 


kanker
(kanker pada anak walau tidak dapat dicegah, para orang tua bisa mengajarkan perilaku CERDIK pada anak sejak dia masih kecil, salah satunya dengan cek kesehatan secara berkala. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 
 

Kenali tanda dan gejala kanker pada anak


Umumnya anak-anak belum mampu mengatakan apa yang dirasakan. Itulah mengapa kanker pada anak sulit diketahui dibandingkan pada orang dewasa. Berikut cara mengenali tanda dan gejala kanker pada anak yang telah dipaparkan oleh Kemenkes.
 

1. Leukemia


Penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang mempunyai gelaja, antara lain, lucat, lemah, rewel, nafsu makan menurun, demam tanpa sebab, pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening. 

Anak juga bisa kejang sampai penuruman kesadaran, perdarahan kulit atau spontan, bahkan nyeri tulang. Sering kali anak tidak mau berdiri dan lebih nyaman digendong.
 

2. Retinoblastoma


Tumor ganas primer pada mata ini sering dijumpai pada anak balita. Gejalanya berupa manik mata berwarna putih, mata kucing, juling, kemerahan, pembesaran dan peradangan jaringan bola mata, serta penglihatan buram.
 

3. Osteosarkoma


Kanker tulang ini ditandai dengan rasa nyeri tulang pada malam hari atau setelah beraktivitas. Pun terjadi pembengkakan, kemerahan dan hangat di area nyeri tulang, patah tulang setelah aktivitas rutin, gerakan tulang terbatas. Selain tulang, nyeri juga menetap di area punggung, demam, cepat lelah, penurunan berat badab, dan pucat.  
 

4. Limfoma Maligna


Gejala yang harus diwaspadai pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, pangkal paha, dan tanpa rasa nyeri; sesak napas, tersumbatnya saluran pencernaan, demam, keringat malam, lemah, lesu, napsu makan berkurang, penurunan berat badan. Kanker ini merupakan keganasan primer jaringan getah bening yang bersifat padat. 
 

5. Karsinoma Nasofaring


Tumor ganas pada daerah antara hidung dan tenggorokan ini mempunyai gejala ingus bercampur darah, pilek dan air ludah kental, hidung tersumbat, mimisan, tuli sebelah, telinga berdengung, nyeri telinga, rasa penuh di telinga.
 

6. Neuroblastoma


Merupakan tumor embrional dari sistem saraf simpatis yang berasal dari cikal bakal jaringan saraf. Gejala yang ditimbulkan, perdarahan di sekitar mata dan menonjol, nyeri tulang, perut terasa penuh dan diare, kelopak satu sisi mata menurun, kontraksi pupil, mata kering, pembengkakan di leher, nyeri, lumpuh, gangguan fungsi kandung kemih dan usus.


kanker
(Faktanya, lebih dari 50 persen kasus kanker pada anak yang datang ke fasilitas kesehatan, sudah dalam keadaan stadium lanjut. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 
 

Kenali kanker anak sedini mungkin


Faktor risiko dan penyebab kanker pada anak sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, diduga adanya interaksi dari empat faktor, yakni genetik, zat kimia, virus, dan radiasi. Walau tidak dapat dicegah, baik bagi para orang tua untuk mengajarkan perilaku CERDIK pada anak sejak dia masih kecil. 
 

Adapun singkatan dari CERDIK:


C: Cek kesehatan secara berkala
E: Enyahkan asap rokok dengen menghindari paparan asap rokok
R: Rajin aktivitas fisik
D: Diet sehat dan seimbang
I: Istirahat cukup
K: Kelola stres

Selain deteksi dini, Kemenkes juga meminta agar masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) untuk mengurangi risiko atau kemungkinan terserang kanker.
(TIN)