FAMILY

Penyebab Dispareunia pada Pria dan Wanita Berbeda, Ini Penjelasannya

A. Firdaus
Selasa 22 Maret 2022 / 12:10
Jakarta: Dispareunia merupakan nyeri yang muncul segera sebelum, selama, atau setelah berhubungan intim. Nyeri dapat bersifat tajam, seperti ditusuk-tusuk atau intens.

Melansir Bocah Indonesia, Dispareunia dialami pria maupun wanita, akan tetapi jauh lebih banyak dialami oleh wanita. Penyebabnya beragam, dan seringkali dapat diatasi dengan pengobatan yang tepat.

Pada wanita, nyeri dapat dirasakan di vulva, yakni area sekitar lubang vagina. Nyeri juga bisa dirasakan di dalam liang vagina atau di bagian perut bawah. Pada pria, nyeri akibat dispareunia biasanya dirasakan di penis, testis, perut, dan kadang-kadang rektum (bagian atas anus).
 

Penyebab dispareunia pada wanita


Penyebab dispareunia pada wanita beragam, tergantung nyeri terjadi pada saat penis baru mulai penetrasi (entry pain) atau saat penetrasi dalam dengan dorongan (deep pain). Faktor emosional dapat berhubungan dengan berbagai jenis dispareunia.


1. Nyeri saat mulai penetrasi (superfisial/entry pain)

Nyeri di awal penetrasi berhubungan dengan berbagai faktor, seperti:

- Kurangnya pelumas, kerap disebabkan oleh: Kurang foreplay, turunnya kadar estrogen setelah menopause, setelah melahirkan, atau selama menyusui, dan turunnya fungsi ovarium, seperti pada insufisiensi ovarium primer atau pasca pengangkatan ovarium (ooforektomi).

Kemudian penggunaan obat-obatan, seperti antidepresi, antihipertensi, obat tidur, antihistamin, pil kontrasepsi kombinasi, serta antiestrogen seperti letrozole dan tamoxifen.

- Cedera atau iritasi. Ini termasuk cedera atau iritasi akibat kecelakaan atau trauma fisik, operasi pada rongga panggul, atau sayatan yang dilakukan waktu bersalin untuk memperlebar liang vagina (episiotomi).

- Peradangan, infeksi atau kelainan kulit pada area kelamin dan saluran kemih.

- Vaginismus, yakni kontraksi involunter (tidak disadari) dari otot-otot dinding vagina. Kontraksi ini menyebabkan dinding vagina tegang sehingga terasa nyeri saat dilakukan penetrasi.

- Kelainan bawaan lahir, seperti agenesis vagina (vagina tidak terbentuk sempurna) atau himen imperforata (selaput dara tidak berlubang dan menutupi liang vagina).


2. Nyeri saat penetrasi dalam (deep pain)

Nyeri saat penetrasi dalam biasanya memburuk pada posisi tertentu. Penyebabnya mencakup:

- Adanya penyakit tertentu, seperti endometriosis, massa adneksa, adenomiosis, penyakit radang panggul, prolaps uterus (rahim turun ke liang vagina), uterus retroversi (posisi rahim ke arah belakang), mioma rahim, sistitis (infeksi kandung kemih), sindrom iritasi usus, gangguan fungsi otot dasar panggul, kista ovarium, dan hemoroid (wasir/ambeien).

- Riwayat operasi atau pengobatan tertentu. Jaringan parut akibat operasi rongga panggul, seperti histerektomi, dapat menyebabkan dispareunia. Begitu pula dengan pengobatan kanker, seperti radiasi dan kemoterapi.
 

Penyebab dispareunia pada pria


Pada pria, dispareunia dapat disebabkan oleh:
- Infeksi menular seksual atau infeksi pada prostat.
- Kelainan kulit seperti radang atau infeksi.
- Perasaan buruk tentang pasangan, hubungan, atau diri sendiri.

Semua nyeri pada dispareunia diawali oleh adanya faktor fisik atau psikologis maupun kejadian tertentu. Nyeri yang dirasakan memicu rasa takut nyeri akan muncul kembali di kesempatan berikutnya, membuat sulit untuk merasa rileks, sehingga akhirnya nyeri menjadi lebih intens.

Selanjutnya, individu dapat mulai menghindari hubungan intim bila itu berkaitan dengan rasa sakit. Siklus ini pun akan terus berputar selama tidak diputus (diatasi).
 

Faktor psikososial yang menyebabkan dispareunia


Faktor-faktor berikut memang tidak secara langsung menyebabkan dispareunia, namun keberadaannya dapat memperburuk nyeri yang sudah ada.

- Adanya kekerasan dari pasangan seksual, baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual.

- Adanya kelainan jiwa atau isu psikologis seperti kecemasan, stres, depresi, kekhawatiran tentang tampilan fisik/citra diri, ketakutan akan keintiman.

- Riwayat kekerasan seksual di masa lalu.

- Masalah pada hubungan interpersonal dengan pasangan atau perselingkuhan.

- Adanya penyakit kronis seperti diabetes atau kelainan hormon tiroid.
(FIR)