FAMILY

7 Area Self-care yang Dapat Diajarkan kepada Anak

Kumara Anggita
Senin 23 November 2020 / 13:20
Jakarta: Self-care atau merawat diri adalah hal yang penting untuk diajarkan pada anak sejak dini. Dengan carai ini, kita bisa tetap sehat secara fisik dan mental.

Rininta Meyftanoria, M.Psi, Psikolog selaku Psikolog Klinis Anak menjelaskan bahwa, ada banyak area self-care yang perlu diselami oleh anak. Namun dia membagikan tujuh area yang paling utama antara lain:
 

1. Fisik


Rininta menjelaskan bahwa, anak perlu merawat diri sendiri apabila ingin badannya bekerja secara optimal. Perlu diperhatikan bahwa ada keterikatan yang kuat antara badan dan tubuh anak. Ketika anak peduli terhadap badannya, maka anak akan mampu berpikir dan merasa lebih baik juga.
 

2. Merawat diri secara fisik termasuk:


-Istirahat atau tidur yang cukup

“Berapa banyak waktu istirahat atau tidur yang anak dapatkan? Saat anak di usia yang lebih muda tidak mendapatkan istirahat yang cukup, biasanya ia akan menjadi rewel. 

Di usia ia sedang sekolah, ketika anak kurang tidur maka ia jadi kurang konsentrasi saat sekolah atau mengerjakan tugas,” ujar Rininta dalam Rompi di Aplikasi Orami Parenting dengan tema Pentingnya Self-Care terhadap Anak.


-Nutrisi bagi tubuhnya

Anak perlu mengetahui makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Apakah makanan itu sehat dan sudah memenuhi gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya? Atau makanan itu hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan lidah tanpa ada gizi di dalamnya?


-Olahraga

“Seberapa banyak anakmu menggerakkan tubuhnya atau berolahraga? Di masa pandemi ini, anak yang bersekolah online akan lebih banyak duduk di depan laptop atau komputer. Kondisi ini membuat otot-otot tubuh menjadi kencang dan tegang atau mungkin ada beberapa anak yang merasa pegal-pegal dan menjadi kurang berkonsentrasi,” papar Rininta.

“Oleh karena itu, butuh olahraga setidaknya 2-3 kali dalam seminggu untuk meregangkan otot-ototnya yang tegang. Meskipun tidak pada masa pandemi, anak mulai diajarkan untuk berolahraga 2-3 kali seminggu agar dapat memeilhara tubuhnya tetap sehat dan kuat,” lanjutnya.


-Kesehatan dan kebersihan diri

Contohnya adalah mandi dua kali sehari, menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur, mengganti baju yang kotor atau basah, mengobati luka atau meminum obat ketika sedang sakit. 
 

3. Spiritual


Self-care juga perlu dibangun dengan mengajarkan hal-hal spiritual. Anak-anak perlu diajarkan agar ia terkoneksi dengan Tuhan sesuai dengan kepercayaan ajaran dan agama masing-masing.

"Sebuah penelitian menyatakan bahwa individu yang menjalani ibadah secara teratur memiliki resiliensi atau ketangguhan dalam menghadapi masalah yang lebih baik,” ungkap Rininta.

“Ini bisa juga tidak berkaitan dengan agama, yang terpenting adalah membantu untuk mengembangkan perasaan bermakna dalam hidup, memahami, dan memiliki koneksi dengan alam semesta,” jelasnya.
 

4. Emosional


Menurutnya sangat penting untuk anak-anak memiliki cara memecahkan masalah yang sehat dan tepat ketika berhadapan emosi yang kurang menyenangkan, seperti marah, kecemasan dan kesedihan. Self-care di area emosional ini termasuk aktivitas yang dapat membantu anak dalam mengenali dan mengekspresikan dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari atau me time.

Untuk anak usia di atas lima tahun atau usia sekolah, anak dapat diajarkan untuk membicarakan mengenai apa yang ia rasakan kepada orang tua, atau teman dekatnya. Bisa juga meluangkan waktu untuk merelaksasikan badan, emosi dan pikiran dengan melakukan aktivitas yang disukai.

Sementara untuk anak usia di bawah lima tahun, ajarkan terlebih dahulu cara untuk mengenal emosinya, dan bagaimana cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi.

“Contohnya, marah itu wajar dan tidak apa-apa, karena setiap orang memiliki rasa marah ketika berada pada situasi yang tidak menyenangkan. Orang tua bisa dengan mulai untuk memvalidasi emosi anak saat marah dan kemudian memberikan ruang untuk ia dapat mengekspresikan kemarahannya," ujar Rininta.

"Namun dengan aturan, yaitu tidak boleh menyakiti diri sendiri, tidak boleh menyakiti orang lain dan merusak barang,” jelasnya.
 

5. Mental atau Internal self-care


Ini adalah kegiatan pengembangan diri yang dapat membantu pikiran menjadi tajam, kritis, atau mempelajari sesuatu yang dapat menginspirasi anak, dan menerima kelebihan dan kekurangan anak.

Sebagai contoh, anak bisa bermain puzzles, lego, boardgames, sensory play, public speaking, booth camp, dan lainnya. Kegiatan ini ditujukan agar anak dapat membantu dirinya sendiri untuk berdialog lebih sehat dengan dirinya sendiri.
 

6. Sosial


Menurutnya kunci self-care lainnya adalah sosialisasi. Pastikan anak memiliki pertemanan.

“Meskipun terkadang sulit untuk menjalin pertemanan dan mudah sekali untuk mengabaikan pertemanan ketika hidup menjadi semakin sibuk. Hubungan pertemanan yang baik dan dekat adalah penting bagi anak, sebagai mahluk sosial,” ungkap Rininta.

Cara terbaik untuk menjaga hubungan pertemanan yang baik, menurut Rininta adalah untuk memberi waktu dan energi. Tidak ada berapa banyak waktu yang anak butuhkan untuk menjaga hubungan pertemananya. Setiap orang memiliki kebutuhan sosial yang berbeda.

"Kuncinya adalah untuk mencari tahu dan mengenali kebutuhan sosial anak dan memberikan waktu yang cukup dalam jadwal anak untuk mengoptimalkan kehidupan sosialnya,” jelasnya.

Selain itu, anak juga diajarkan bahwa di rumah tempat ia tinggal, ada anggota keluarga lain, seperti ayah, ibu, adik, kakak, mungkin ada juga kakek, nenek, tante atau om yang harus diajak berkomunikasi dan berinteraksi.

Terkait sosialisasi ini jangan lupa juga untuk ajarkan anak personal boundaries (batasan pribadi) tentang orang lain dan dirinya.

“Sebagai contoh, ada tetangga atau teman ingin mencium anak karena lucu. Orang tua bisa memberitahu orang lain tidak boleh sembarangan mencium anak. Sehingga dari batasan yang diberikan orang tua ini juga anak menjadi tahu kapan boleh berkata “tidak” dan menolak sesuatu yang tidak sesuai keinginannya. Apabila orang tua tidak memberikan batasan ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak bisa menolak, selalu berusaha menyenangkan hati orang lain, dan tidak mampu bersikap asertif,” jelasnya.
 

7. Lingkungan


Self-care untuk lingkungan tempat kita tinggal juga sangatlah penting. Anak diajarkan untuk dapat membereskan kasur setelah bangun tidur, membereskan mainannya sendiri, membersihkan tumpahan makanan atau minuman dengan lap, membuang sampah, menyapu, mencuci tangan, piring, baju atau mengepel lantai, berkebun, membuat kompos, dan lainnya.

“Ketika anak melihat lingkungannya bersih dan rapi, maka ia pun akan tumbuh dengan kehidupan yang lebih tertata, bersih, disiplin dan rapi. Seperti halnya, ketika kita melihat lingkungan rumah yang chaotic (berantakan dan kotor), pasti pikiran dan mood-nya akan berantakan juga,” tutupnya.
(FIR)