FAMILY

Ketika Pasangan Sibuk dengan Hobi dan Gadgetnya

Yuni Yuli Yanti
Senin 05 Oktober 2020 / 16:25
Jakarta: Selama pertandingan bola berlangsung, mungkin ada beberapa diantara kamu yang jadi kesal dengan suami. Sebab, seluruh perhatiannya kini tertumpah pada pertandingan. Jika, tidak nonton bareng rekan –rekan kerjanya, suami pasti asyik sendiri di rumah. Tak jarang pula, sampai ada yang tak punya waktu bermain dengan anak, apalagi sekadar ngobrol dengan istri. 

Begitupun sebaliknya, ada juga beberapa suami yang merasa kesal dengan istri karena terlalu sibuk dengan gadgetnya. Saking sibuknya, sampai-sampai urusan anak terbengkalai dan tidak ada waktu untu berbicara dengan suami.
 
Kedua fenomena di atas memang kerap terjadi dan dialami oleh setiap pasangan. Tak jarang, bila kejadian tersebut tidak segera diatasi, sering menimbulkan suasana di rumah memburuk bahkan hingga terjadinya konflik keluarga. Karena suami yang sibuk dengan hobinya membuat istri merasa seperti tidak memiliki suami dan begitupun sebaliknya. 

Lalu, bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Seorang Psikolog, Nessi Purnomo, M.Psi memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan hal ini. 

Hobi positif jika tak berlebihan

Melakukan hobi pada dasarnya adalah hal yang positif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan masalah. Banyak hal yang hilang jika hobi menjadi aktivitas yang mendapat porsi lebih banyak dari kegiatan lainnya.

Misalnya, waktu bersama keluarga akan menjadi lebih sedikit atau tidak ada sama sekali ketika suami sibuk mengutak-atik motor yang dilakukan hampir tiap hari sepulang kerja. Terutama, waktu bermain bersama anak dan bercengkrama atau sekadar ngobrol dengan istri.

“Memang kecenderungan laki-laki memiliki hobi. Tapi, kemudian suami jadi terobsesi dengan hobinya hingga ia menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas itu saja atau tidak, tergantung bagaimana istri dari awal menyampaikannya kepada suami. Istri perlu memahami bahwa suami memiliki kegemaran terhadap sesuatu. Tapi, suami juga harus ingat bahwa ada hal yang juga butuh sentuhan tangan dan perhatiannya selain hobi yakni istri dan anak,” tutur Nessi. 

Catat rutinitasnya

Setiap orang memerlukan waktu untuk melakukan kegiatan yang menurutnya menyenangkan untuk dirinya sendiri atau lebih dikenal dengan ‘me time’. Namun, ketika ‘me time’ mendapatkan porsi yang besar dari keseluruhan kegiatan hingga mengabaikan hal yang utama itu akan menjadi hal yang negatif. 

Jika, kamu merasa hobi yang dilakukan pasangan sudah sangat berlebihan. Mulailah dengan mencatat rutinitas yang dilakukan dengan hobinya itu perharinya. Bila, sudah mencatat rutinitas pasangan dalam seminggu itu, kamu bisa mengatakan dan menyampaikan keluhan yang dirasakan berdasarkan catatan tersebut.

Ingat sampaikanlah dengan cara baik-baik dan penuh cinta dan jangan sampai terbawa emosi. Karena hal itu dapat mengakibat pertengkaran dan berujung dengan konflik. 

“Dalam hal ini akan sangat baik bila istri bicara menggunakan data. Review setiap harinya rutinitas yang ia kerjakan, lalu ungkapkan kepada suami keluhan kita mengenai hobinya tersebut. Katakan bahwa kita juga butuh ngobrol, cerita-cerita, dan disayang-sayang. Jadi, kompromikan antara hobi suami dengan kebutuhan istri,” saran Nessi. 


(Usahakan ada satu waktu misalnya 45 menit saja, bicara dengan pasangan dan anak tanpa adanya gadget. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Sibuk gadget, suami dan anak terabaikan

Selain hobi, ternyata kesibukan dengan gadget pun menjadi masalah yang kerap dialami oleh beberapa pasangan yang merasa hubungannya mulai tidak harmonis lagi. Sekarang ini, gadget sudah menjadi bagian hidup setiap orang. Kelancaran komunikasi bisa didapatkan melalui gadget. Tapi, karena gadget pun kualitas hubungan antara suami, istri, dan anak bisa terganggu. 

Nessi mengatakan bisa saja suami istri sibuk dengan gadget miliknya sehingga lupa untuk memerhatikan anak. Tentu ini juga tidak baik untuk perkembangan buah hati. Dan, saking kecanduan dengan gadget, anak juga diberikan gadget dan ketika mereka membutuhkan anak misalnya untuk mengajaknya makan malam. Bukan menemui langsung, tapi malah memanggilnya lewat sms, bbm, atau lainnya yang sudah jelas mereka dalam satu rumah. Ini merupakan komunikasi yang tidak benar.  

45 menit berkualitas

Agar tidak dikendalikan dengan kecanggihan teknologi yang dapat menghilangkan proses komunikasi langsung dalam keluarga. Maka, setiap pasangan perlu melakukan pembatasan dalam penggunaanya. Buatlah kesepakatan penggunaan gadget di dalam rumah dilakukan jika kegiatan inti dalam keluarga sudah terpenuhi.

Misalnya, saat makan malam, nonton televisi bersama, diskusi atau sekadar membicarakan hal yang terjadi di kantor dan sekolah, gadget di letakkan di kamar masing-masing. Jadi, ketika sedang bersama keluarga, fokus terhadap topik atau kegiatan yang dilakukan. 

“Aturan dan batasan itu pasangan yang menentukan. Kalo tidak dibuat, maka batasan itu akan dilanggar dan orang-orang yang ada di dalam rumah bisa menjadi sibuk dengan dunianya sendiri. Usahakan ada satu waktu misalnya 45 menit saja, bicara dengan pasangan dan anak tanpa adanya gadget. Manfaatkan waktu tersebut untuk saling mendekatkan diri, memahami, mengerti dan bertukar pikiran di antara pasangan dan anak. Juga dapat mendeteksi awal tentang apapun yang terjadi pada anak,” jelasnya. 

Pillow talk

Metode pillow talk merupakan cara yang amat penting untuk membuat pasangan bisa berkomunikasi dengan baik. Terutama, bagi mereka yang hidup di perkotaan dan sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi, dengan adanya gadget demi memudahkan dan menghemat waktu banyak orang mulai mengabaikan komunikasi secara langsung. 

Meski, tuntutan zaman orang harus selalu terhubungan dengan gadget. Namun, anda tetap bisa membuat kesepakatan untuk tidak menggunakan gadget jika sudah berada di dalam kamar.
Jadikanlah bantal sebagai media untuk membicarakan hal yang ingin Anda bagikan pada pasangan.

“Sering berdiskusi dengan pasangan akan memudahkan kita mengetahui isi hati dan pikiran yang sedang dialami pasangan. Selain itu, dapat meminimalisir konflik dalam keluarga,” pungkas Nessi.
(yyy)