FAMILY

Perpustakaan Nasional Nobatkan Perpustakaan Terbaik di Indonesia

K. Yudha Wirakusuma
Selasa 20 Oktober 2020 / 15:28
Jakarta: Keluarga menjadi salah satu faktor agar anak dapat gemar membaca. Faktor lainnya fasilitas, salah satunya yaitu perpustakaan yang menyediakan asupan buku. 

Kedua faktor tersebut menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Terkait hal tersebut, perpustakaan Nasional RI menggelar lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik dan Perpustakaan SLTA/Madrasah Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2020.

Sebanyak tiga perpustakaan desa/kelurahan terpilih menjadi juara pertama dari klaster A, B, dan C dan satu perpustakaan SLTA/madrasah terpilih menjadi yang terbaik.

Juara pertama Klaster A diraih perpustakaan “Harapan Bangsa” dari Berau, Kalimantan Timur, Klaster B perpustakaan “Gembira” dari Bombana, Sulawesi Tenggara, Klaster C diraih perpustakaan “Ulul Albab” Desa Mentibar, Sambas, Kalimantan Barat. Sementara juara pertama lomba perpustakaan SLTA/madrasah tingkat nasional diraih perpustakaan Amarta (SMAN 1 Bantul) dari DI Yogyakarta.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan lomba ini bertujuan menggerakkan perpustakaan di Indonesia untuk menunjukkan eksistensi dan perannya. 

“Dan yang paling penting, apresiasi dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota terhadap sekolah-sekolah dan desa-desa yang ikut dalam lomba ini,” jelas Syarif Bando saat pengumuman lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik dan Perpustakaan SLTA/Madrasah Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2020 yang digelar secara daring di Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2020.

Syarif Bando menjelaskan masih banyak kepala desa yang ragu menggunakan alokasi dana desa untuk membangun perpustakaan. Dia menegaskan, hal ini seharusnya tidak menjadi kendala karena Memorandum of Understanding (MoU) dan Kerjasama antara Perpusnas dengan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyatakan kegiatan-kegiatan yang dapat dibiayai dengan alokasi dana desa untuk pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Lomba diharapkan menjadi motivasi bagi daerah lain yang belum menjadi pemenang. “Kami yakin dan percaya di tahun mendatang, kehadiran perpustakaan dan perhatian masyarakat terhadap perpustakaan, semakin baik,” ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengapresiasi penyelenggaraan lomba. Menurutnya, lomba ini merupakan bagian dari komitmen yang didorong Komisi X DPR RI untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam gerakan literasi nasional. 

Keberadaan perpustakaan di desa/kelurahan di Indonesia adalah ujung tombak gerakan literasi di Indonesia. Karenanya Komisi X DPR RI mengapresiasi desa yang sudah mengalokasikan anggarannya untuk membangun, mengembangkan, dan mengurus dengan baik perpustakaan.

Huda menambahkan, ke depan, penguatan literasi melalui perpustakaan sekolah semakin dibutuhkan eksistensinya.

“Setahun atau dua tahun yang akan datang, perubahan sistem pendidikan nasional kita juga mengarahkan gerakan literasi dan numerasi menjadi prioritas program sistem pendidikan kita. Karena itu penguatan gerakan literasi melalui perpustakaan di sekolah-sekolah menjadi kebutuhan yang semakin relevan di masa akan datang,” tuturnya.

Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik dan Perpustakaan SLTA/Madrasah Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2020 diikuti perpustakaan terpilih dari seleksi yang dilakukan di provinsi di Indonesia.

Dalam laporannya, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi menyatakan pelaksanaan Lomba Perpustakaan Umum Terbaik (Desa/Kelurahan) pada tahun 2020 dibagi menjadi tiga kelompok. Yaitu Klaster A, Klaster B dan Klaster C yang pengelompokannya berdasarkan klasifikasi status daerah provinsi berdasarkan ketentuan dari Kementerian Desa PDTT.

Masing-masing klaster diambil Juara I, II, III, serta Juara Harapan I, II, dan III. Hal sama berlaku untuk penentuan pemenang lomba perpustakaan SLTA/madrasah terbaik tingkat nasional. Juara I mendapatkan uang pembinaan Rp 25 juta, juara II mendapatkan Rp 20 juta, dan juara III mendapatkan 18 juta. Sementara juara harapan I hingga III berturut-turut mendapatkan Rp 18 juta, 15 juta, dan 12 juta.

Komponen penilaian lomba meliputi enam pilar pembangunan perpustakan yaitu SDM, koleksi, layanan/pendayagunaan dan kerjasama, sarana prasarana, penyelenggaraan, pengelolaan perpustakaan termasuk di dalamnya inovasi dan kreativitas perpustakaan, serta kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Lomba dilaksanakan sesuai dengan kondisi pandemi covid-19 dengan memperhatikan protokol kesehatan. Sehingga pelaksanaan visitasi lapangan dan penilaian akhir serta pengumuman hasil lomba, dilaksanakan secara daring
(YDH)