FAMILY

Cara Mengajarkan Toleransi pada Anak Sejak Dini

Raka Lestari
Sabtu 03 April 2021 / 15:12
Jakarta: Mengajarkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Dan hal tersebut sebaiknya sudah ditanamkan oleh orang tua sejak dini. Dengan mengajarkan toleransi kepada anak, mereka akan tumbuh menjadi seseorang yang bisa memahami bahwa perbedaan bukanlah hal yang asing.

“Pada dasarnya, dari usia balita kan mereka sudah bisa mengenal toleransi. Sekitar usia 2 tahun, mereka mungkin baru menyadari bahwa ada perbedaan. Ada orang yang berambut panjang, berambut pendek, berkulit gelap, atau terang,” ujar Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani.

Pada usia sekitar 2 tahun, anak akan secara bertahap memahami perbedaan-perbedaan antara dia dengan orang-orang di sekitarnya. “Pada saat itulah kita bisa mengajarkan toleransi kepada anak, melalui obrolan-obrolan sehari-hari,” sarannya.

“Misalnya, anak suka warna kuning sedangkan orang tua sukanya warna merah. Orang tua bisa menjawab ‘Oh, kamu suka warna kuning tapi ibu suka warna merah. Tapi kuning juga sama-sama cantik kok’. Obrolan-obrolan seperti itu yang bisa memberikan toleransi pada anak-anak kita,” tambah Nina.


(Anak haru menyadari dan tahu bahwa setiap orang berbeda.  Ada orang yang berambut panjang, berambut pendek, berkulit gelap, atau terang. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)


Menurut Nina, ketika anak merasa bahwa mereka memiliki pilihan yang berbeda dengan orang tua mereka akan merasa baik-baik saja. Atau misalnya mengajarkan toleransi lewat makanan. 

“Anak yang satu suka tahu goreng, tetapi anak lainnya suka tahu kukus. Sebagai orang tua, kita bisa mengatakan bahwa perbedaan pilihan tersebut sama-sama baik, sama-sama sehat, hanya berbeda saja cara memasaknya,” jelas Nina.

Pendidikan toleransi juga tidak hanya identik dalam beragama saja tetapi juga dalam hal-hal lainnya. Justru pembelajaran toleransi itu harusnya menyeluruh untuk semuanya. Dengan pembelajaran toleransi yang baik, bahkan kita bisa mencegah radikalisme, mencegah bullying, dan banyak hal lainnya.

“Kekerasan itu akan berkurang ketika kita belajar bertoleransi. Jadi, bertoleransilah dalam semua hal. Dalam hal pemilihan kesukaan, pemilihan makanan, segala hal pokoknya. Bukan hanya agama saja. Justru ketika kita terbiasa untuk bertoleransi dalam segala hal, ketika kita bertoleransi kepada agama yang berbeda maka itu hal yang biasa untuk anak,” tutup Nina.

(yyy)