FAMILY

Stimulasi dan Nutrisi yang Baik akan Menghasilkan Tumbuh Kembang Optimal bagi Anak

A. Firdaus
Sabtu 31 Juli 2021 / 20:04
Jakarta: Menjadi saksi perkembangan anak merupakan kesempatan yang tak boleh dilewatkan oleh orang tua. Terlebih pada masa pandemi ini, orang tua pasti punya banyak waktu untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan si kecil.

Perkembangan merupakan maturasi dari fungsi-fungsi tubuh kita, baik itu motorik kasar maupun halus, ada juga bahasa yang reseptif dan ekspresif. Serta, terdapat juga personal sosial kemandirian. Ekspektasi kita tentunya perkembangan si kecil bisa dilihat sesuai dengan milestone yang ada.

"Bagaimana caranya? Sebenarnya sudah banyak yang tersedia, seperti mengetahui apakah anak-anak yang terlihat normal dikatakan benar-benar normal atau tidak. Sehingga kita bisa melihat membandingkan dengan milestone yang sudah standarisasi, alat skrining sudah cukup banyak. Contohnya, anak 1 tahun tentu ada perbedaan dari mereka, kalau 1 tahun itu baru bisa mengatakan kata tunggal, bobo, mimi, atau mamam," terang Dr. dr. Bernie E. Medise, Sp.A (K), MPH dalam virtual conference Wyeth Nutrition S-26 Procal Nutrissentials beberapa waktu lalu.

"Kalau usia 2 tahun, bisa membuat kombinasi dua kata, mama bobo atau mama mamam. Sementara untuk anak usia 3 tahun, sudah membuat kombinasi 3 kata, mama mau mimi. Setiap perkembangan anak-anak berbeda, dan kita harus membandingkan dengan milestone yang sudah ada," sambung Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang ini.

Sementara untuk pertumbuhan juga tak lupa kita pantau. Orang tua harus rutin menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, dan lingkar kepala secara teratur. Orang tua dapat melihat kurva pertumbuhan si kecil di buku catatan kesehatan anak, sehingga nanti bisa diplot, apakah pertumbuhannya sesuai dengan garis yang ada di buku tersebut.
 

Tantangan orang tua mengasuh anak di masa pandemi


Seperti kita tahu, pandemi ini juga memiliki hikmah di baliknya. Salah satunya, kita sebagai orang tua bisa memantau anak-anak secara langsung. Kendati begitu, bagi orang tua yang harus bekerja dari rumah, ini menjadi tantangan karena bukan perkara yang mudah melakukan kedua tugas tersebut secara bersamaan, atau multitasking.



Ternyata, multitasking sangat menghabiskan energi dan menyebabkan kelelahan. Bahkan ada jurnal yang mengatakan bahwa multitasking dapat menurunkan IQ kita. Pastikan ketika kita mengerjakan sesuatu, usahakan untuk tidak multi tasking.

Demi menepis terjadinya semua akibat dari multitasking, tentu ada cara bagimu agar semuanya berjalan dengan lancar. Baik itu urusan keluarga, maupun pekerjaan.

Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi Psikolog mencoba berbagi cara mengatasi tantangan orang tua selama pandemi ini:

- Usahakan untuk tidak multitasking

Pastikan ketika orang tua mengerjakan sesuatu, usahakan untuk tidak multi tasking. Untuk itu kamu perlu melakukan block time. Paling tidak 30 menit.

"Misal setiap pagi hari kita spesial kan waktu untuk anak-anak, special time. Kita coba lihat anak kita, jauhkan dari smartphone atau televisi. Kalian harus betul-betul mengamati apa yang mereka senangi, supaya terjalin koneksi," terang Pritta.

- Meluangkan waktu

Yang kedua, orang tua perlu meluangkan waktu. Tak perlu lama-lama tapi sifatnya harus konsisten. Tujuannya untuk bisa mempelajari tumbuh kembang si kecil, terutama milestone-nya, kalau anak di usia 2 tahun ada berapa kosa kata yang mereka produksi.



- Perhatikan aktivitas anak

Poin ketiga, orang tua harus meluangkan waktu untuk mempelajari aktivitas apa yang sedang anak sukai dan senang dilakukan. Seandainya anak lagi senang-senangnya dengan cat air. Orang tua itu bisa mencatat kebiasaan yang disenangi anak untuk keesokan harinya

"Kalau anak senang mengecat belikan kanvas dan media-media lainnya. Pengamatan yang tajam itu bisa membuat orang menyediakan media yang lebih beraneka ragam. Sehingga bakat yang dimiliki anak bisa terstimulasi," sambung Pritta.

- Menyampaikan rutinitas ke anak

Yang tidak kalah pentingnya adalah, menyampaikan rutinitas orang tua kepada si kecil. Bila memungkinkan orang tua bisa melibatkan si kecil untuk membantu.

"Misalnya untuk orang tua yang sedang WFH, kamu perlu sampaikan kepada anak, bahwa kamu harus masuk ke ruangan untuk bekerja atau ke dapur untuk memasak," ujar Pritta.

"Contoh: Boleh enggak ya sebelum mama bekerja mama minta bantuan kamu untuk mengelap meja. Itu bagian dari cara menstimulasi motorik halus anak. Bila kita sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, jangan lupa untuk melibatkan mereka dalam membantu kita," tandasnya.
 

Nutrisi yang baik


Tak lupa, semua hal yang dilakukan dari luar harus diimbangi dengan apa yang dikonsumsi si kecil. Salah satu asupan yang mendukung adalah mengonsumsi susu pertumbuhan untuk anak usia 1 sampai 3 tahun.

Susu yang diasup juga harus kaya akan Kolin, Zat Besi dan Vitamin B Kompleks, tinggi Protein, Kalsium, Vitamin D dan K, serta tanpa gula tambahan dengan rasa madu yang lezat untuk mendukung tumbuh kembang dan dukung proses belajar si Kecil, seperti yang terdapat pada Wyeth Nutrition dengan inovasi terbarunya, S-26 Procal Nutrissentials Rasa Madu.



"Selain membutuhkan stimulasi dan kasih sayang yang penting untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang dan proses belajar, anak juga membutuhkan nutrisi untuk siap memasuki tahap perkembangan selanjutnya dan mendukung tumbuh kembangnya," ujar Brand Manager S-26 Procal Vera Niki Gozali.

Dengan adanya poin-poin di atas, orang tua bisa mengendalikan tantangan yang mereka alami selama pandemi, sambil memantau tumbuh kembang anak. Jangan lupa nutrisi yang baik untuk si kecil. Karena, stimulasi dan nutrisi yang baik akan menghasilkan tumbuh kembang anak yang optimal.
(FIR)