FAMILY

Mengapa Anak Bisa Bunuh diri karena Belajar Daring?

Kumara Anggita
Kamis 22 Oktober 2020 / 09:18
Jakarta: Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) daring mungkin tidak nyaman untuk beberapa orang. Ada yang dampaknya mengganggu konsentrasi belajar, ada yang jadi tidak percaya diri, atau bahkan ada yang jadi merasa stres.

Di Sulawesi Selatan, seorang siswi SMA di Gowa, berinisial MI, bunuh diri dengan menggunakan racun. Ia bahkan diduga bunuh diri akibat depresi menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) daring. 

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa memang stres bisa dirasakan berbeda pada setiap orang. Jadi untuk beberapa orang, mungkin PJJ ini begitu memberatkan.

“Pada orang-orang tertentu, memang ada yang secara genetik kemampuan untuk menolerir tekanan/stresnya rendah. Oleh karena itu, saat mereka dihadapkan pada beban hidup, yang salah satu contoh di antaranya adalah beban studi maka mereka akan mudah jatuh dalam situasi stres berat,” ujarnya saat dihubungi Medcom.id/gaya.


bunuh diri
(Luangkan waktu untuk anak dan jadi pendengar baginya. Hal ini menurut Psikolog Efnie sudah cukup membantunya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Luangkan waktu untuk anak


Psikolog Efnie menganjurkan agar orang tua di sini untuk mengambil lebih banyak peran. Pastikan orang tua memerhatikan gerak-gerik anak, apakah dia terlihat menikmati pembelajarannya atau tidak.

“Memang, idealnya di tengah kondisi pandemi saat ini, orang tua atau keluarga yang kerap berada di dekat anak peka dalam mengamati perubahan perilaku anak. Ini karena anak bunuh diri itu tidak terjadi secara tiba-tiba, namun perilaku-perilaku yang menunjukkan gejala stres biasanya sudah ada,” paparnya.

Psikolog Efnie menegaskan bahwa menjadi teman curhat anak sudahlah membantu. Dengan ini, anak bisa merasa lega dan orang tua yang lebih berpengalaman mungkin bisa membantu mencari jalan keluar.

“Oleh karena itu, di saat anak sudah menunjukkan perubahan perilaku, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah mendampingi anak dan jadi teman curhat anak. Anak butuh didengarkan keluhannya dan dibantu untuk mencari solusi bersama atas beban yang dihadapi anak," papar psikolog yang ramah ini.

"Saat anak bisa mengemukakan apa yang menjadi kekhawatirannya dan ia didengarkan setidaknya ini sudah membantu mengurangi beban stres pada anak,” ujarnya.

“Namun, hal yang terjadi saat ini adalah karena fokus perhatian kita di saat pandemi adalah tentang kesehatan fisik dan mengatasi kesulitan ekonomi, maka hal-hal pendampingan pada anak terkadang tidak menjadi fokus perhatian pada sebagian keluarga,” pungkasnya.
(TIN)