FAMILY

Kecemasan pada Remaja, Ini 5 Cara Bisa Membantunya

Mia Vale
Rabu 27 Oktober 2021 / 12:00
Jakarta: Fakta menyebutkan, kecemasan dan depresi lebih menjadi perhatian kaum muda daripada bullying. Dan menurut Pew Research Center, 7 dari 10 remaja melihat masalah kesehatan mental ini sebagai masalah utama di antara teman sebayanya. 

Penyebab kecemasan pada remaja belum dipahami sepenuhnya. Rasa cemas itu bisa timbul dengan beragam alasan, termasuk penumpukan peristiwa stres yang lebih kecil, memiliki kepribadian yang lebih rentan terhadap kecemasan, pelecehan, sampai trauma. 

Oleh karenanya, menurut pemaparan yang dinukil dari Psychology Today, orang tua, guru, dan orang dewasa yang peduli lainnya dapat memainkan peran yang mendukung dalam membantu mengatasi banyak stres dalam kehidupan remaja

Berikut cara yang bisa dilakukan para orang tua untuk mengatasi rasa cemas yang kerap dialami para remaja:
 

1. Bangun hubungan keterikatan


Hubungan ini merupakan ikatan emosional yang dalam dan berkelanjutan. Dimulai dari bayi, di mana orang tua menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka penting dan layak untuk dicintai.  

Ini akan berlanjut sampai anak-anak masuk usia remaja. Jalin terus hubungan kuat orang tua dan anak. Orang tua harus terus mendampingi, termasuk bagaimana membantu anak-anak dalam menangkal stres dan rasa cemas yang terjadi. 
 

2. Jangan tekan untuk menjadi sempurna


Pesan halus tentang kinerja dan perfeksionisme memicu kecemasan pada remaja dan meresap dalam budaya saat ini. Itu menimbulkan tekanan. Kadang orang tua mengaku hanya memberi saran kepada anak remaja mereka.

Misal, "Kamu bisa melakukan yang lebih baik." Tapi yang ada dipikiran remaja, saran itu merupakan tekanan untuk mereka. Sehingga si anak akan berpikir, "Apakah saya mampu?" Dan banyak remaja yang percaya kalau mereka tidak mampu. Sebaiknya orang tua selalu memberikan tanggapan positif akan apa yang terjadi pada diri anak. 


kecemasan pada remaja
(Hindari menghakimi anak. Ini karena selain tak baik bagi mereka, juga tak baik bagi psikologi orang tua. Kebiasaan ini bisa menguras energi secara perlahan, karena kamu akan terus berpikir sisi mana lagi yang bisa dikritik dari seseorang. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

3. Jangan menghakimi


Menghakimi seorang anak karena perbedaan mereka, apa yang mereka lakukan, atau bagaimana penampilan mereka, akan membuatnya mersa kurang layak dicintai. Untuk membangun hubungan yang langgeng dan suportif dengan remaja, orang dewasa harus berusaha memahami. Melalui pemahaman itulah remaja belajar menerima diri mereka apa adanya.
 

4. Kurangi ketakutan masa depan mereka


Masa remaja adalah masa di mana anak-anak mencari jati dirinya. Ini disertai dengan perubahan luar biasa dalam jaringan saraf otak. Perubahan ini dapat menjadi pemicu alami kecemasan pada remaja saat mereka mulai khawatir tentang bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat. 

Orang dewasa dapat membantu mengurangi kecemasan ini dengan menormalkannya. Libatkan remaja dalam percakapan tentang ketakutan mereka. Ketika keluarga belajar berkomunikasi tentang kesulitan, anak-anak menjadi kurang cemas dan lebih tangguh.
 

5. Remaja perlu merasa dimengerti


Empati selama masa remaja adalah alat yang ampuh untuk mengurangi kecemasan pada remaja. Ketika orang muda merasa dilihat, didengar, dan dipahami, mereka merasa positif tentang diri mereka sendiri dan tidak terlalu khawatir tentang menjadi sempurna atau cocok. 

Empati. Ya, itu kunci dari menghadapi kecemasan remaja. Mendengarkan untuk memahami. Dan tiga keterampilan yang terkait dengan mendengarkan yang baik memiliki rasa hormat terhadap orang lain, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, dan selalu mencari pengertian.
(TIN)